Tampilkan postingan dengan label Ibadah Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah Haji. Tampilkan semua postingan

29 November 2010

Economy of Hajj The Neglected Fortune

Haji sebagai rukun yang kelima ternyata bukan saja bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan dan nilai-nilai spiritual pelakunya, tetapi haji juga menyimpan potensi ekonomi yang sangat dahsyat. Ada belasan sektor industri, manufaktur, perdagangan, dan jasa yang terlibat dalam muktamar internasional tahunan umat Islam itu. 
Di antara industri yang terlibat dalam perjalanan haji adalah: (1) tours and travel dengan berbagai jenis paket dan program; (2) Garmen dan tekstil untuk kain ihram, jilbab, sorban, tas, kopor, dan sajadah; (3) Transportasi baik udara, laut, dan darat yang melibatkan ribuan pesawat, ratusan kapal laut, dan ratusan ribu kendaraan roda empat; (4) Food and Beverages baik yang menyangkut beras, gandum, minuman bersoda nonalkohol, ice cream, maupun puluhan ragam buah-buahan; (5) Telekomonikasi baik lokal, internasional, direct-line hand phone, fiber optic, maupun satellite based; (6) Perhotelan dengan berbagai jenis bintang dan network internasionalnya; (7) Perbankan untuk penerimaan setoran ONH, kartu kredit, dan travel check, serta lalu lintas transfer, (8) Asuransi untuk penjaminan dan perlindungan keamanan perjalanan, kendaraan, gedung, hotel, dan jiwa jamaah; (9) Jasa kurir dan kargo untuk pengangkutan kelebihan barang serta oleh-oleh; (10) Perlengkapan kemah dan tenda untuk jutaan jamah di Arafah dan Mina; (10) Teknologi informasi untuk mendukung sistem seperti SISKOHAT dan data based informasi di setiap maktab muasasah penyelengara haji di Arab Saudi dan mitranya di tanah air; dan (11) ratusan ribu jikalau bukan jutaan jenis barang-barang merchandise dan elektronik yang menjadi oleh-oleh jamaah untuk handai taulan dan keluarganya di tanah air.

Pertanyaannya, siapakah yang menguasai industri-industri tersebut di atas? Apakah kita sudah optimum dalam memanfaatkan potensi ekonomi umat yang dilimpahkan Allah setiap tahun ini atau kita lebih banyak menjadi pasar bagi barang-barang Amerika, Cina, dan Jepang, serta Korea Selatan?

Melihat betapa besarnya manfaat ekonomi bagi umat dari haji ini, Alquran sejak lebih dari lima belas abad yang lalu telah memberikan isyarat yang jelas bahwa kita harus menjadikan haji sebagai kekuatan ganda: (i) spiritual dan (ii) material. Dalam Surat al Haj ayat 27 dan 28, Allah berfirman,Dan serulah kepada manusia supaya menunaikan ibadah haji, niscaya mereka datang kepada kamu dengan berjalan kaki dan menunggang unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru (dunia) yang jauh. Supaya mereka menyaksikan bermacam-macam manfaat bagi mereka, mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan, atas rezeki yang Allah karuniakan kepada mereka .....

Para ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan bermacam-macam manfaat adalah keuntungan material dan ekonomi.

Bila kita mencermati setiap tahunnya terdapat sekitar 3-5 juta Muslim melakukan haji dari seluruh penjuru dunia. Betapa besarnya angka transaksi ekonomi yang terjadi. Untuk Indonesia saja, misalnya, kuota haji adalah 210 ribu dengan 15 ribu di antaranya adalah haji plus. Jika Ongkos Naik Haji (ONH) reguler adalah Rp 27-28 juta dan rata-rata ONH plus adalah 5.000 dolar AS (paket plus berkisar antara 3.500-10.500 dolar AS), maka kita akan mendapatkan angka Rp 6,210 triliun. Angka ini akan membengkak hingga Rp 7,26 triliun bila setiap jamaah membawa bekal minimal 500 dolar AS, (walaupun banyak di antara jamaah yang membawa bekal belasan ribu dolar alias ratusan juta rupiah). Dari kalkulasi sederhana ini kita mendapatkan bahwa kira-kira setiap jamaah mengeluarkan biaya sekitar Rp 34,5 juta. Bila angka ini dikalikan dengan 5 juta jamaah per tahun maka kita akan mendapatkan angka sekitar Rp 172,5 triliun per tahun.

Sekarang kita bertanya ke mana perginya angka raksasa itu? Jawabannya hampir pasti, 20-30 persen untuk transportasi udara dan sekitar 5-7 persen untuk transportasi darat. Bila berbicara transportasi udara maka hampir pasti pihak yang paling diuntungkan adalah Boeing dan Airbus karena mereka pemegang monopoli pada industri ini. Demikian juga halnya dengan transportasi darat, triliunan rupiah dana jamaah dinikmati Mercedes Benz, Hino, Hyundai, Toyota, dan Volvo. Malangnya, tak satu pun dari nama-nama tersebut dimiliki jamaah haji atau umat Islam. Komponen terbesar haji lainnya adalah hotel. Dalam bidang yang sangat potensial, pemain-pemain asing merangsek dengan sangat giatnya. Kita menyaksikan, saat ini, masjidil haram telah dikepung oleh Hotel Hilton dan Hotel Intercontinental (Dar at Tawhid Intercontinental) dari arah pintu King Fahd, Sofitel dari arah Bab al Umrah, serta Sheraton sekitar 300 meter dari Marwah. Network Accor dan Mercure Hotel juga sudah muncul di daerah Ajyad, sementara itu, Hyatt Regency pun sudah hadir sekitar 700 meter dari Kabah. Keadaan di Madinah al Munawwarah ternyata lebih semarak lagi. Tepat di depan Masjid Nabawi, kita menyaksikan Hilton Madinah yang berdiri dengan sangat megah. Di sebelah kiri dan kanannya terdapat 3 Intercontinental dan 3 Sheraton. Yakni (1) Intercontinental Dar at Taqwa, (2) Intercontinental Dar al Iman, (3) Intercontinental Dar al Hijrah; (1) Sheraton al Harythiyah, (2) Sheraton al Karam, dan (3) Sheraton Taiba yang masih dalam taraf pembangunan. Tampak di Mathiqah al Markaziyyah, pusat kota Madinah yang baru, network Marriot Hotel juga sedang melakukan pembangunan.

Pada sisi makanan dan minuman sesungguhnya Indonesia bisa berperan cukup aktif dalam hal pasokan komoditas mengingat kesamaan asal agama dan jumlah jamaah haji yang selalu menempati ranking teratas. Tetapi, sangat disayangkan, kita masih mendapatkan apel dari Ekuador, pisang dari Guatemala, dan aprikot dari Madagaskar. Pengalaman pribadi yang paling menyedihkan adalah ketika berjalan-jalan di daerah Sulaemaniyyah, Makkah, yang penuh dengan toko makanan Asia dan Indonesia. Mata saya hampir tidak bisa dipejamkan ketika melihat satu karung beras bertuliskan "Cianjur Rice Produced in Thailand", beras pandan wangi Cianjur yang ditanam dan diekspor oleh petani-petani Thailand. Sebagai orang Indonesia dan dibesarkan di Sukabumi yang berjarak hanya 29 kilometer dari Cianjur rasa nasionalisme saya hampir tidak bisa membenarkan apa yang saya lihat. Tetapi, apa boleh buat karena pemerintah Thailand lebih serius dalam mendorong agroindustri para petaninya. Kesamaan agama, jumlah kuota haji, dan kekerabatan yang berabad-abad lamanya tidak bisa berbicara banyak bila dibenturkan dengan tingginya kualitas, bersaingnya harga, teraturnya pasokan, dan lancarnya pengapalan.

Bila kita berpindah dari makanan ke merchandise, maka hanya ada satu nama yang dominan yaitu RRC. Label made in China dapat kita saksikan di hampir segala jenis barang. Dari mulai tasbih, sajadah, kopiah, kerudung, selimut, mantel, sepatu, bahkan hingga jeriken zamzam pun mereka tidak ketinggalan memanfaatkannya. Demikian juga halnya dengan komoditas mainan anak-anak dan elektronik, yang sering kali diborong oleh jamaah di punggungnya, jarang sekali ditemukan made in Kuwait, made in Marocco atau made in Tunis, yang ada hanyalah made in Taiwan, made in Hongkong atau made in Japan.

Potensi real haji yang masih belum digarap serius adalah pengendapan dana selama masa penyetoran dan prapembayaran. Biasanya, jamaah haji sudah mulai menyetorkan dalam bentuk tabungan atau cicilan uang muka ke travel sekitar bulan April. Masa pengendapan ini akan berlangsung hingga September, bahkan Oktober atau sekitar 6-8 bulan. Apa yang terjadi saat ini adalah dana tersebut tercecer di berbagai bank dengan sifatnya yang ad hock, habis setiap tahunnya. Pertanyaan klasik di sini adalah mengapa kita tidak bisa berbuat seperti Tabung Haji Malaysia, yang mewajibkan penyetoran ONH 5 tahun ke muka. Walaupun tabung haji Malaysia jumlah jamaahnya hanya 10 persen dari jamaah Indonesia kini, tabung haji adalah majority share holder di Bank Islam Malaysia, Asuransi Takaful Malaysia, dan di puluhan listed company di Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE), yang meliputi berbagai industy seperti palm oil, property, manufacture, medical, IT, dan lain-lain. Dalam salah satu kesempatan dengan otoritas moneter dan petinggi Depag beberapa tahun yang lalu, pernah, kami usulkan agar pemerintah, dalam hal ini Depag, mengambil inisiatif take over Bank Danamon dari BPPN dengan menggunakan dana abadi ONH dan menjadikannya sebagai bank dana haji yang memegang monopoli penerimaan haji seluruh Indonesia. Asumsi Danamon karena itulah bank swasta terbesar setelah BCA yang memiliki cabang di setiap kabupaten dan hampir 1.000 mesin ATM. Sekalipun belum sampai ke taraf tabung haji Malaysia, dengan skenario ini, maka: (1) tak kurang dari 6,2 triliun dana umat akan masuk secara murah (dari sisi cost of fund) setiap tahun dan (2) angka ini akan berlipat 3-5 kali lipat jikalau kita wajibkan setor ONH di muka untuk jaminan kuota hingga 5 tahun di muka. Dengan kekuatan dana 20-30 triliun, lembaga keuangan tersebut dapat berbuat banyak sekali untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi umat, minimal, dengan memanfaatkan rasio floating dana yang aman setelah kebutuhan operasional haji. Semoga di masa mendatang kita tidak menjadikan muktamar tahunan Muslim dunia sebagai the neglected fortune lagi.

Sumber: syafiiantonio.com


17 November 2010

Perjalanan Haji: Antara Ibadah dan Bisnis

Jutaan umat muslim memenuhi seluruh ruang Masjidil Haram, ketika melaksankan Shalat Subuh di masjidil itu, Mekkah, Arab Saudi, Minggu ( 31/10). Dua pekan menjelang pelaksanaan ibadah haji Masjidil Haram di padati jutaan umat yang datang dari penjuru dunia. (ANTARA/Saptono)
Jakarta (ANTARA News) - Orang-orang Arab pada zaman Jahiliah telah mengenal ibadah haji yang diwarisi dari nenek moyang mereka dengan melakukan perubahan di sana-sini.

Tetapi bentuk umum pelaksanaannya masih tetap sama, seperti tawaf, sai, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya praktiknya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat.

Oleh karena itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dalam pelaksanaannya sebagaimana yang diatur dalam Alquran dan Hadist. Latar belakang ibadah haji itu didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan para rasul, terutama Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai nabi agama Tauhid. Tawaf bahkan telah dilaksanakan oleh umat sebelum Nabi Ibrahim.

Ritual sai, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah juga didasarkan untuk mengenang ritual istri Nabi Ibrahim ketika mencari susu untuk anaknya Nabi Ismail, sedangkan wukuf di Arafah adalah untuk mengenang pertemuan (kembali) Nabi Adam dan Hawa di muka bumi. Di tempat itulah asal mula dari kelahiran seluruh umat manusia.

Ibadah umrah adalah salah satu ibadah dalam Islam yang secara lebih khusus dilaksanakan di luar bulan haji. Ibadah ini dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa ritual ibadah di kota suci Mekkah, khususnya di Masjid Al Haram. Perbedaan umrah dengan haji adalah dalam hal waktu pelaksanaannya.

Umrah bisa dilaksanakan sewaktu-waktu, sedangkan haji hanya dilakukan pada 8 Dzulhijjah hingga 12 Dzulhijjah. Umrah merupakan ibadah yang tidak wajib. Banyak ahli hukum Islam menyebutnya sebagai sunah, yakni bila dilaksanakan mendapatkan pahala dan jika tidak dilaksanakan tidak merupakan suatu kesalahan atau dosa.

Idealnya perjalanan haji atau umrah tidak perlu mengalami hambatan, agar kemurnian "komunikasi transendental" antara jamaah dengan Allah SWT bisa terjamin. Oleh karena itu, perjalanan haji atau umrah ke Tanah Suci harus difasilitasi dengan baik.

Bisnis Menjanjikan
Umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia memimpikan beribadah haji dan umrah. Dari Indonesia, jumlahnya tak kurang dari 210 ribu jamaah haji setiap tahun, belum lagi jamaah umrah yang pada tahun ini diperkirakan bisa menembus angka 400 ribu jamaah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa bisnis yang bergerak di bidang usaha jasa perjalanan haji dan umrah merupakan bidang yang "basah".

Bisnis ini bukan saja menawarkan keuntungan besar, namun juga sangat gampang untuk kemungkinan terjadinya manipulasi. Kepasrahan jamaah calon haji dan umrah seringkali dimanfaatkan agen-agen perjalanan untuk mengeruk keuntungan finansial.

Sikap pasrah dan "nrimo" ini seringkali didasari atas sikap jamaah yang memandang kendala yang mereka hadapi merupakan "ujian" dan "cobaan" yang harus dijalani dalam melaksanakan ritual keagamaannya, padahal seringkali kejadian ini merupakan kelalaian dari agen perjalanan sebagai penyedia jasa.

Kepasrahan jamaah seringkali dimanfaatkan oleh agen perjalanan haji dan umrah untuk meraup keuntungan dalam bisnis jasa tersebut.

Kasus-kasus seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lainnya.

Pada musim haji beberapa waktu lalu misalnya, sempat mencuat berita tentang 60 calon jamaah haji asal Kazakhstan "terdampar" di Bandara Dubai, Uni Emirat Arab (UAE), karena mereka telah ditipu oleh agen perjalanan yang menyediakan jasa perjalanan haji, demikian menurut Daily News sebagaimana dikutip worldpress.com (21/2/2008).

Keenam puluh calon jamaah haji yang umumnya adalah lansia dan dari kalangan kurang mampu itu ditipu dengan hanya diberikan tiket perjalan one-way dari negara mereka ke Dubai. Padahal mereka dijanjikan akan dijemput oleh "partner-agent" perusahaan tersebut begitu mereka tiba di Jeddah.

Beruntung UAE Red Cressent (Palang Merah UAE) kemudian berhasil mendapatkan bantuan untuk memberangkatkan ke-60 calon jemaah itu ke Tanah Suci, sehingga mereka dapat mengikuti ibadah haji dan pulang ke negaranya beberapa waktu kemudian.

Sebelumnya, Pemerintah UAE melalui The Higher Committee for Haj and Umrah at the General Authority for Islamic Affairs and Auqaf (GAIAA), mencabut izin usaha 12 agen perjalanan karena diketahui melakukan kecurangan atas kontrak yang ditandatangani oleh jamaah haji dan kantor urusan haji.

Selain itu GAIAA menerapkan denda terhadap 37 perusahaan dan memberikan surat peringatan terakhir.

Kedua belas perusahaan yang dicabut izin usahanya itu tidak diperbolehkan lagi melakukan usaha di bidang yang sama dan deposit yang mereka berikan untuk mendapatkan izin usaha tidak dikembalikan. Sanksi keras itu merupakan langkah tegas untuk membuat bisnis penyelenggaraan perjalanan haji sebagai bisnis yang bersih dan halal seperti halnya tujuan haji itu sendiri.

Bagaimana dengan di Indonesia? Perjalanan jamaah haji atau jamaah umrah dari berbagai daerah ke Tanah Suci yang difasilitasi oleh pihak swasta tidak selalu lebih baik dari pelayanan yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI.

Beberapa waktu lalu ada kasus batalnya pemberangkatan 150 jamaah calon umrah asal Bandung, yakni pada minggu kedua April 2008. Selain itu, lebih dari seratus jamaah calon umrah asal Jambi pada waktu yang sama terkatung-katung di Bandara Soekarno-Hatta karena pihak agen perjalanan dianggap melakukan kesalahan prosedur dalam menjalankan kewajibannya.

Khusus mengenai pelaksanaan ibadah haji, mengingat tingginya nilai ibadah tersebut umat Islam tidak segan-segan mengorbankan sebagian harta kekayaannya atau meninggalkan pekerjaan dan keluarganya selama waktu tertentu serta siap bersusah payah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu.

Maka tidak heran, seiring dengan meningkatnya kemampuan ekonomi, jumlah jamaah haji Indonesia dari waktu ke waktu cenderung mengalami peningkatan. Setiap tahun selalu ada saja jamaah yang sudah mendaftar beberapa waktu sebelumnya tetapi tidak bisa diberangkatkan karena kuota jamaah haji sudah terlampaui.

Perlu Pembenahan
Sebagai konsekuensi dari meningkatnya jumlah jamaah haji, maka komponen-komponen yang diperlukan untuk kepentingan penyelenggaraan ibadah itu juga terus meningkat, seperti transportasi, pemondokan dan katering. Pengadaan komponen-komponen ini memiliki nilai ekonomi yang relatif besar sehingga dapat berubah menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Banyak pihak ingin mengeruk manfaat dari kegiatan tersebut. Oleh karena itu, tidak heran seringkali terjadi tarik-menarik kepentingan dalam penyelenggaraan perjalanan haji. Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2008 masalah pemondokan dan transportasi muncul ke permukaan, sedangkan tahun sebelumnya masalah katering menjadi mengemuka.

Kalau kecenderungan tersebut tidak dikendalikan dengan efektif, maka arah penyelenggaraan ibadah haji bisa bergeser dari kegiatan yang mengutamakan nilai ibadah (dengan membantu memberi pelayanan kepada orang yang memenuhi panggilan Allah) menjadi kegiatan yang berorientasi mencari keuntungan semata.

Sebenarnya penyelenggaraan perjalanan haji akan berjalan baik apabila dikelola oleh lembaga yang kuat dan diusung oleh SDM yang jujur, amanah, bertanggung jawab, kompeten, dan berorientasi pada pemberian pelayanan dan perlindungan kepada jamaah.

Hanya dengan cara itu jamaah haji dapat terhindar dari permainan tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.

Sorotan masyarakat terhadap penyelenggaraan haji belakangan ini semakin meningkat. Sorotan itu tidak saja terbatas pada penanganan dan penyelenggaraan haji yang dinilai kurang bagus, tetapi juga disertai tuntutan dihapuskannya monopoli penyelenggaraan ibadah haji oleh Pemerintah c.q Kementrian Agama.

Wacana yang berkembang mengenai pengelolaan haji hingga saat ini mencakup isu swastanisasi dengan harapan akan terjadi kompetisi dan efisiensi; atau pembentukan semacam BUMN oleh Kementrian Agama dengan harapan penyelenggaraan haji dapat dilakukan secara professional dan transparan.

Sementara itu Kementerian Agama diwacanakan bertindak sebagai regulator yang berfungsi sebagai pengawas perusahaan penyelenggara perjalanan haji dengan harapan akan terjadi hukum pasar yang berlaku, di mana perusahaan agen perjalanan haji (dan umrah) yang professional akan banyak diminati oleh masyarakat.

Namun bergulirnya wacana pengelolaan perjalanan haji yang ideal merupakan gejala positif untuk mendorong Kementerian Agama yang selama ini memegang kendali utama penyelenggaraan ibadah haji agar lebih mawas diri serta melakukan introspeksi.

Beberapa faktor yang kiranya perlu mendapat perhatian dan pembenahan dari Kementerian Agama adalah bidang organisasi. Pada bidang ini perlu dilakukan restrukturisasi agar memenuhi asas organisasi yang ramping struktur tetapi kaya fungsi.

Di samping persoalan organisasi, persoalan manajemen haji juga harus dibenahi secara terus menerus. Sudah selayaknya penyelenggaraan ibadah haji mengedepankan asas efisiensi dan transparansi, khususnya di bidang keuangan dan kebijakan, apalagi dewasa ini selalu ditekankan "good governance", atau tatakelola yang baik dalam manajemen pemerintahan.

Kementerian Agama perlu terus-menerus melakukan penghitungan kembali biaya yang diperlukan untuk komponen-komponen kegiatan ibadah haji. Di samping itu juga harus meninjau kembali ketentuan atau kebijakan yang sudah tidak relevan dengan situasi dan kondisi di lapangan, seperti jumlah anggota Amirul Haj dan pemberian fasilitas khusus pada tamu dalam jumlah besar.

Perhatian, pembenahan, dan pengawasan yang lebih baik juga harus dilakukan terhadap agen perjalanan yang selama ini meraih keuntungan relatif besar dari para jamaah yang melakukan perjalanan ibadah haji atau umrah.

Semoga pengelolaan perjalanan ibadah haji ke depan akan bertambah baik, sehingga para jamaah yang melaksanakan ibadah tersebut mendapatkan haji mabrur. (***)

*Penulis, anggota Departemen Pembinaan, Penelitian, dan Pengembangan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) periode 2010-2015.
Sumber: http://infohaji.antaranews.com/news/1288861850/perjalanan-haji-antara-ibadah-dan-bisnis


Menag Akui Keterbatasan Wukuf di Arafah

Ratusan ribu jamaah haji dari berbagai negara
membentuk lautan manusia berjalan menuju ke Mina
usai menunaikan Shalat Subuh di Masjidil Haram,
Mekkah, Minggu (14/11). (ANTARA/Saptono)
(ANTARA News) - Menteri Agama Suryadharma Ali mengakui masih ada keterbatasan dalam pelayanan bagi jemaah Indonesia di Arafah, khususnya dalam pelayanan kesehatan terkait minimnya ambulan yang beroperasi pada saat pelaksanaan wukuf.

"Ada 25 ambulan yang dioperasikan, namun yang bisa melayani jemaah saat wukuf cuma lima," kata Menag usai meninjau pos kesehatan di tenda misi haji Indonesia, di Arafah, Senin. Ia mengatakan, dari ambulan sebanyak itu 18 di antaranya digunakan untuk melayani pasien safari wukuf, dua ambulan di Jeddah untuk menunjan operasional Daker setempat dan lima di Arafah.

Dengan demikian, katanya, kemampuan untuk melayani jemaah haji sebanyak 200 ribu lebih tentu tak akan memadai. Karena itu, lanjut dia, tatkala pasien harus dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi, banyak hambatan dijumpai, terutama dalam mobilitas. Selama pelaksanaan wukuf, lanjut dia, ada 20 pasien di rawat di pos kesehatan Arafah. Sebanyak 10 pasien terpaksa dirujuk ke RS Arab Saudi dan satu pasien wafat.

Umumnya pasien banyak menderita penyakit hipertensi, stroke, gula darah dan pernafasan, katanya. Namun ia mengakui bahwa untuk membantu penyakit diabetes selama pelaksanaan Arafah, pihak kesehatan pun mengalami keterbatasan. Salah satunya pengadaan obat berupa insulin tak tersedia. Pasalnya, untuk menyimpan obat tersebut diperlukan ruang dingin agar obat tak rusak.
(E001/A025)
Sumber: http://infohaji.antaranews.com/news/1289834496/menag-akui-keterbatasan-wukuf-di-arafah


Demi Haji, Dua Pemuda Bersepeda dari Afrika

TEMPO Interaktif, Mina:Demi menjadi haji, dua pemuda asal Afrika Selatan bersepeda menuju kota suci, Mekah. Nathim Cairncross, 28, dan Imtiyaz Haron, 25, berangkat dari kota tempat tinggal mereka, Cape Town sembilan bulan lalu. Mereka tiba di Mekah pada 2 November. Nathim dan Imtiyaz bersepeda sejauh 11.000 kilometer. Mereka melewati sejumlah negara, yakni Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Syria, Yordania, Palestina dan akhirnya sampai di Arab Saudi.

"Bagaimana pun perjalanan ini sangat berat," kata Nathim kepada Arab News di Aziziyah kemarin. "Tapi Alhamdulillah kami sampai juga."

Dua pemuda ini memilih berhaji dengan mengendarai sepeda karena ingin merasakan pengalaman spiritual yang berbeda. Mereka juga ingin melihat sejumlah negara di Afrika. "Jadi ini buakan semata-mata perjalanan ibadah," kata Nathim.

Selama sembilan bulan perjalanan mereka singgah beberapa hari di negara-negara yang mereka lintasi. Bahkan di Zimbabwe mereka menjadi relawan. Mereka menjadi guru bagi anak-anak Zimbabwe dengan mengajari membaca, menulis dan berhitung.

Setiap hari rata-rata Nathim dan Imtiyaz bersepeda menempuh 80 sampai 100 kilometer. Mereka hanya mengayuh pagi sampai petang, sedangkan malam hingga pagi mereka beristirahat. Biasanya di kota-kota besar mereka berusaha mencari kenalan untuk mendapat akomodasi dan makanan gratis. "Tapi umumnya, kami ditawarkan," kata Nathim.

Tapi dari belasan ribu kilometer, kata Nathim, tidak ada yang lebih indah ketika mereka melihat Ka'bah. "Sangat menabjubkan, seperti melihat buah cheri di atas kue, pemandangan Afrika kalah dengan keindahannya."

Setelah tiba di Mekah, Nathim dan Imtiyaz bergabung dengan kelompok haji asal Afrika Selatan, Khidmatul Awaam. Setelah itu, selama di Mekah mereka memutuskan untuk berpisah. Mereka menjalani haji sendiri dan tidak pernah melakukan ritual haji berduaan.

Namun, mereka sepakat untuk pulang bersama. Rencananya mereka akan pulang dengan pesawat. Bagaimana dengan sepedanya? "kami jual," kata Nathim. Uang hasil jualan sepeda akan dipakai untuk membeli tiket, bila tidak laku, mereka berharap mendapat uang dari sponsor untuk membantu mereka pulang. "Kami juga berharap bbisa bertemu dengan keluarga Kerajaan," kata Nathim lalu tertawa lebar.

Nathim dan Imtiyaz adalah mahasiswa hukum Islam. Keduanya masih lajang dan sangat menyukai olahraga. Nathim hobi berselancar angin sedangkan Imtiyaz hobi memanjat gunung.

POERNOMO GR
Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/wartahaji_kisah/2010/11/17/brk,20101117-292361,id.html


15 November 2010

Khutbah Haji Wada' Rasulullah SAW

Foto: Padang Arafah, aferiza.wordpress.com
Hari itu Hari Tarwiyah 10 H. Saat itu Rasulullah Saw. pergi ke Mina dan melaksanakan shalat zuhur, asar, magrib, isya, dan subuh di sana. Seusai menanti beberapa seat hingga matahari terbit, beliau lantas melanjutkan perjalanan hingga tiba di Arafah. Tenda-tenda waktu itu telah didirikan di sana. Beliau pun masuk tenda yang disiapkan bagi beliau.
 
Setelah matahari tergelincir, Rasulullah Saw. meminta agar Al-Qashwa', unta beliau, didatangkan. Beliau kemudian menungganginya hingga tiba di tengah Padang Arafah. Di sana telah berkumpul sekitar 124.000 atau 144.000 kaum Muslim. Beliau kemudian berdiri di hadapan mereka menyampaikan khutbah haji terakhir beliau yang lebih dikenal dengan sebutan haji wada':

"Wahai manusia! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kamu semua di tempat ini. Tahukah kamu semua, hari apakah ini? (Beliau menjawab sendiri) Inilah Hari Nahr, hari kurban yang suci.Tahukah kamu bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua bahwa darah dan nyawa kalian, harts bends kalian dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan Tuhanmu kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian!

Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa yang memegang amanah di tangannya, maka hendaklah is bayarkan kepada yang empunya. Dan, sesungguhnya riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali kuberantas adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Al-'Abbas bin'Abdul-Muththalib.

Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliah, dan penuntutan darah cara jahiliah. Yang pertama kali kuhapuskan adalah tuntutan darah 'Amir bin Al-Harits.

Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumimu yang suci ini. Tetapi, ia bangga jika kamu dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atasnya! Wahai manusia! Sesungguhnya zaman itu beredar sejakAllah menjadikan langit dan bumi.

Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita (istri kalian) itu ada hak-hakyang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi istri itu. Yaitu, mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tak boleh membawa orang lain yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali setelah mendapat izin dari kalian terlebih dahulu. Karena itu, sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan demikian, sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu.Tetapi,jika mereka berhenti dan tunduk kepada kalian, menjadi kewajiban kalianlah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah membawa mereka dengan suatu amanah dari Tuhan dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka.

Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang jika kalian memeganginya erat-erat, niscaya kalian tidak akan sesat selamanya. Yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia untuk selamanya dalam hidupmu!

Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi tiap-tiap pribadi di antara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya, kecuali dengan izin hati yang ikhlas.

Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah saksikanlah!

Janganlah kalian, setelah aku meninggal nanti, kembali kepada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang jika kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan kalian, tentu kalian tidak akan sesat, yakni Kitab Allah (AI¬Quran).

Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.

Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!"

Tak lama setelah Rasulullah Saw. menyampaikan khutbah tersebut, turunlah firman Allah:

Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Islam telah Kuridhai menjadi agama bagi kalian (QS AI-Ma'idah [5]: 3).
Mendengar firman Allah tersebut, 'Umar bin Al-Khath¬thab pun meneteskan air mata. Melihat hal itu, dia pun dita¬nya, "'Umar! Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau ini jarang sekali menangis?"

"Karena aku tahu, selepas kesempurnaan hanya ada kekurangan," jawab Umar. Ia telah merasakan suasana perpisahan (wada') terakhir dengan Rasulullah SAW yang sangat dicintainya.

(Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Al-Bukhari dari 'Abdullah bin 'Umar dan sebuah kisah yang dituturkan oleh Ibnu Hisyam dalam Al-Sirah Al-Nabawiyyah dalam Teladan indah Rasullulah dalam ibadah, Ahmad Rofi 'Usmani)
Sumber: http://www.spirithaji.com/berbagi/1525-khutbah-haji-wada-rasulullah-saw.html


14 November 2010

Haji: Sebuah Usaha Memaknai Kehidupan

Ilustrasi (Foto Koran SI)
Aku datang memenuhi panggilan-Mu Aku datang memenuhi panggilan-Mu
Tiada sekutu-Mu
Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu
Sesungguhnya segala puji, kenikmatan
Dan semua kekuasaan adalah milik-Mu
Tiada ada sekutu bagi-Mu 
Doa di atas akan selalu berkumandang pada setiap tahun di bulan Dhulhijah, secara koor manusia dari tiap pelosok negeri akan melantunkan ditengah terik padang pasir. Lantunannya seakan menjadikan tanah Arab menjadi dingin serta hati para Hujaj (orang yang melaksankan ibadah haji) lelap dari ritual warisan Ibrahim.

Ibadah haji memiliki keistimewaan tersendiri, sebab haji merupakan paduan antara ibadah jasmaniah dan maliyah (harta). Ini menunjukan seolah-olah haji merangkum dari semua rukun Islam. Lebih jauh, haji sendiri secara terminologi mempunyai arti menuju baitullah guna menunaikan perbuatan yang diwajibkan, seperti tawaf dan wukuf di Arafah dalam keadaan ihram disertai dengan niat haji.

Pertanyaannya, adakah haji hanya sekedar ritual agama, yang tidak memiliki makna dibalik kenampakan. Sebab perhatikan realitas di Negara kita yang memiliki calon dan alumni haji yang tidak bisa dibilang sedikit. Di Negara ini sudah menjadi rahasia umum bahwa haji dapat meningkatkan gengsi serta status sosial dalam masyarakat. Selain itu, haji merupakan lahan bisnis murni yang dapat menghasilkan keuntungan besar bagi pengelola dan penyedia jasa. Berkaca pada realitas ini, jelas haji oleh sebagian orang sekedar dimaknai sekedar ritual jasmaniah.

Realitas di atas, bukan alasan untuk dapat mengatakan bahwa haji hanyalah sekedar “ritual kosong” tanpa makna. Realitas adalah diskripsi faktual yang perlu disifati melalui diskripsi tekstual. Sehingga antara yang faktual dan yang tesktual dapat dicairkan, serta memiliki kenampakan yang satu. Dengan bahasa sederhana dapat dikatakan, faktual adalah kontekstual, dan sebaliknya kontekstual adalah faktual.

Haji merupakan manifestasi dari penyerahan hamba secara totalitas, karena dalam haji seseorang muslim tidak hanya berkorban tenaga, melainkan juga waktu dan lebih-lebih harta. Bila ibadah lain dalam agama Islam hanya dituntut pengorbanan waktu dan tenaga, dalam haji seorang muslim harus meninggalkan segala keribetan dunia, untuk menemui Dia yang sedang menantikan kedatangan kalian.

Eksistensi manusia tidak ada artinya kecuali jika tujuan hidup terposisikan dan terfokuskan. Tujuan hidup muslim tak lain dan tak bukan adalah menuju rahmat Allah. Oleh karena itu, melakukan perjalanan haji merupakan cerminan kepulangan muslim kepada Allah yang mutlak dan tidak memiliki keterbatasan. Pulang kepada Allah merupakan serbuah gerakan menuju Dia. Fungsi semacam ini diistilakan kemustahilan untuk menghadirkan (the impossibility of representation), meminjam isitilah kritikus sastra postmodern. Saat menunaikan haji manusia akan sadar bahwa ia benar-benar sama dan sederajat di hadapan Allah.

Mulai dari miqot darma haji dimulai, setiap individu harus mengenakan pakaian putih yang sederhana tanpa disertai jahitan dan aksesoris lainnya (baca: pakaian ihram). Pada titik ini, setiap manusia sudah tidak lagi mempunyai perbedaan yang dikonstruk oleh diri sendiri, seorang jenderal, menteri, ataupun presiden sudah tidak berhak untuk memerintah serta mengenakan pakaian kebesarannya.

Segala keakuan dan kecenderungan yang mementingkan diri sendiri harus dikubur, setiap individu harus menjadi manusia sebagaimana seharusnya. Yaitu memuji serta kembali kepada Allah swt, sebagaimana yang difirmankan ”Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk) (QS 24/ 42)

Dari miqot manusia harus melahirkan dirinya yang baru sekligus dipenuhi dengan sifat keagungan Allah, dan menanggalkan semua sifat-sifat hewani yang melekat pada dirirnya. Miqot secara simbolik berarti pemisahan atas masa lalu yang suram dan menuju masa depan yang baik dan penuh rahmat Allah.

Sebelum sampai miqot yang merupakan tempat “start revolusi total” atas segala sifat ke-egoan, setiap individu terlebih dahulu harus memantapkan dan menyatakan niat. Niat memiliki kedudukan yang urgen dalam bangunan ibadah umat Islam. Sebab niat merupakan elan serta motivasi dalam diri yang bisa menjaga suatu ritual ibadah terlaksana sampai paripurna sesuai dengan yang diharapkan.

Lebih-lebih dalam ibadah haji yang merupak manifestasi dari hijrah, hijrah dari rumah menuju rumah Tuhan, hijrah dari diskriminasi rasial untuk memperoleh persamaan dan pengakuan, hijrah meninggalkan hidup untuk memperoleh cinta. Singkatnya, hijrah pada ibadah haji adalah perpindahan menuju kedalam keadaan ihram (baca: kemuliaan).

Kisah Teladan

Hajar merupakan tokoh menarik yang dapat dijadikan tauladan dalam perhelatan akbar ibadah haji. Hajar mendapat perintah dari Allah untuk meninggalkan rumahnya beserta putra yang masih menyusu menuju lembah seram di Makkah yang tidak memiliki sumber mata air. Konsekuensi logisnya, ditempat tersebut tidak dijumpai pepohonan untuk berteduh. Sepintas perintah ini sangat aneh, karena seorang perempuan dan anaknya dibuang di lembah tanpa air, tanpa tempat berteduh, serta tanpa teman yang dapat melindungi.

Memahami perintah tersebut sekedar mengedepankan akal, pastilah tidak akan sampai bahkan menganggap perintah Tuhan tak lebih merupakan sebuah siksaan. Sebagai seorang muslim dalam memahami realitas, sudah semestinya tidak hanya dipahami dari segi yang terusarat an sich. Tetapi juga dimensi metafisik-nya yang bisa ditangkap melalui proses trasendensi.

Bila itu yang diperbuat, akan dapat dipahami bahwa yang diharapkan oleh Allah adalah kepasrahan yang mutlak kepada-Nya. Sifat pasrah kepada Allah dapat timbul melalui rasa cinta kepada-Nya. Setiap manusia akan hidup dengan cinta, jika ruh dan jiwa telah mengenal cinta.

Berbekal argumen ini tak salah jika sufi besar Rabi’ah al-Adawiyah pernah mengeluarkan adagium yang cukup popular, “Akan aku bakar surga dengan api dan kusiram neraka dengan air”. Dengan demikian akan jelas siapa yang memuja Allah karena cinta, dan bukan karena takut api neraka atau harapan kenikmatan surga.

Haji sendiri merupaka tradisi warisan Nabi Ibrahim yang mendapat legitimasi dari agama untuk dijalankan. Ibrahim merupakan prototip seorang pemberontak terhadap mereka yang menghambakan diri terhadap tuhan-tuhan yang diciptakannya sendiri. Walaupun Ibrahim lahir di tengah-tengah rumah Azar yang notabane-nya pembuat berhala.

Fenomena ini menggambarkan bahwa Ibrahim merupakan sosok pemuda cerdas yang dalam melakukan perlawanan tanpa harus melalui kekerasan. Namun lebih mengedepankan sifat dialog guna menunjukkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan umatnya.

Kecerdasan Ibrahim dapat dilihat pada waktu ia mencari Tuhannya, beliau pernah menganggap matahari sebagai Tuhan. Namun setelah diketahui bahwa matahari meskipun lebih terang dan besar daripada bulan, matahari masih tetap tenggelam. Akhirnya sang Ibrahim memutuskan untuk menyembah pencipta bulan dan matahari.

Pada titik ini, mari berhenti sejenak guna merenungkan dan mempelajari aktor-aktor yang berada dibalik ritual ibadah haji. Dengan harapan para hujaj bisa menjadi haji yang membawa predikat haji mabrur. Sehingga ibadah haji bukan sekedar setumpuk ritual dari pemberangkatan yang dikemas begitu mewah, sampai pencantuman konsonan “H” dengan huruf kapital di depan nama.

Alhasil, melalui refleksi ini semoga para hujaj negeri ini bisa mewarnai hidup dan kehidupan dengan semangat “pemberontakan “ terhadap kemungkaran sebagaimana diceritakan Ibrahim, sekaligus menunjukkan sifat pasrah dan cinta sebagaimana termanifestasikan pada sosok Hajar. Bila selama ini kita belum mampu mencetak hujaj yang ideal, sudah seharusnya kita memahami haji bukan sekedar dari kacamata syariat saja, tetapi juga harus melibatkan tradisi kearifan Islam (sapiental tradition), yaitu suatu tradisi intelektual yang mencari alasan-alasan mendasar dalam ajaran agama Islam.

Artinya, menyeimbangkan antara dataran esotoris dan eksotoris ketika melakukan ibadah haji. Bila dalam syariat, cenderung mengajarkan apa yang harus dilakukan dan ditinggalkan dalam melaksanakan ibadah haji, maka dalam tradisi kearifan (esotoris) mengajarkan pemahaman terhadap maksud yang bersemayam di setiap ritme gerak haji. Semoga Allah setuju terhadap semua usaha kita untuk memperbaiki tingkah laku dalam kehidupan yang semakin materilaistis.

Penulis : Yani Arifin Sholikin
Pemerhati Masalah Sosial dan Keagamaan
sumber: http://news.okezone.com/read/2010/10/22/394/385117/394/haji-sebuah-usaha-memaknai-kehidupan


12 November 2010

Memaknai Ibadah Haji

"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (diantaranya) makam Ibrahim, barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengedakan perjalanan ke Baitullah, Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam". (Ali-Imran:97) Ibadah haji merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam yang sudah sanggup untuk melaksanakannya, baik itu secara jasmani maupun secara rohani, sanggup disini menunjukkan kepada kesanggupan untuk menyediakan bekal selama diperjalanan sampai pulang ke negrinya kembali. Begitu juga sanggup di sini berarti mempunyai harta untuk keluarga yang dtinggalkannya selama melaksanakan ibadah haji. Seorang fakir yang tidak mempunyai harta untuk menghidupi diri dan kelurganya maka tidaklah wajib baginya melaksanakan ibadah haji. Dan begitu juga ketika seseorang memiliki harta yang cukup untuk perbekalan tetapi tidak ada kendaraan untuk pergi melaksanakan ibadah haji karena tempatnya yang jauh dan tidak bisa ditempuh dengan berjalan kaki maka tidaklah wajib baginya ibadah haji. Begitu juga walaupun ada kendaraan akan tetapi perjalanannya tidak aman atau akan mendapatkan berbagai macam bahaya maka tidaklah juga wajib baginya untuk melaksanakan ibadah haji, karena semua yang kita sebutkan diatas tersebut diketegorikan kepada tidak sanggup.
Haji merupakan salah satu rukun Islam. Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk melaksanakan ibadah haji tersebut. Rasulullah SAW dalam haditsnya memotivasi kita untuk melaksanakannya:" Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji, kemudian tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, akan dibersihkan dosa-dosanya, sebagaimana waktu ia baru dilahirkan oleh ibunya.
Dalam hadits lain Rasulullah berkata: Haji mabrur tidaklah ada balasannya kecuali sorga.
Begitu pentingnya ibadah haji ini, Rasulullah sangat menganjurkan ibadah ini dengan mengumpamakan bagi seorang yang sudah melaksanakan ibadah haji akan suci sebagaimana seorang bayi yang baru dilahirkan ke muka bumi, begitu juga bagi orang yang melaksanakan ibadah haji dan ia memperoleh haji yang mabrur, maka dia akan mendapat balasan surga, sebagaimana yang dijelaskan hadits yang kita bacakan tadi.
Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah 197:" (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan Haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. 2:197).
Firman Allah ini menegaskan kepada kita bahwa ketika kita sudah berazzam (menetapkan niat ) untuk melaksanakan ibadah haji, hendaklah dia mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Persiapan itu adalah tidak berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan ketika melaksanakan ibadah haji. Karena ibadah haji merupukan ibadah yang sangat mulia, Allah mengisyaratkan untuk benar-benar membersihkan dirinya dari sifat-sifat, tingkah laku dan akhlaq yang tercela. Hal ini adalah sarana untuk mendapatkan haji yang mabrur yang sudah di janjikan Allah Swt.
Pada akhir ayat ini sangat jelas di terangkan bahwa sebaik-baik bekal untuk melaksanakan ibadah haji adalah Taqwa. Persiapan menjelang ibadah haji adalalh dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Melakukan amalan-amalan wajib dan sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Artinya seseorang yang akan melaksanakan ibadah haji sudah tergambar kebersihan dirinya sebelum melaksanakan ibadah haji tersebut. Berbeda dari yang banyak di pahami orang bahwa kebersihan diri didapatkan setelah melaksanakan ibadah haji. Banyak orang beranggapan bahwa setelah haji dia akan lebih taat kepada Allah. Ketahuilah bahwa setiap perbuatan atau ibadah yang kita lakukan, sukses atau tidaknya banyak tergantung kepada persiapan dan perbekalan yang sudah di siapkan. Karena itu bagi seseorang yang akan melaksanakan ibadah haji hendaklan mengevaluasi diri. Memuhasabah diri sudahkan bekal taqwa tertanam di dalam dirinya?. Sehingga dengan perbekalan taqwa yang kuat kita bisa meraih haji yang mabrur.
Berapa banyak orang yang melaksanakan ibadah haji, tetapi hanya mendapatkan capek dan lelah saja. Berapa banyak orang yang sebelum dan sesudah melaksanakan ibadah haji tidak terlihat pada dirinya pengaruh ibadah haji tersebut. Dan berapa banyak juga kita melihat orang yang melaksanakan ibadah haji hanya untuk mendapatkan gelar di panggil sebagai seorang haji. Dan banyak juga kita melihat banyak orang yang bisa melakukan perubahan-perubahan positif dalam kehidupannya. Hanya Allah yang Maha Tahu siapa di antara hambanya yang akan mendapatkan haji yang mabrur. Hanya Allah yang tahu siapa yang benar-benar bisa meresapi makna ibadah haji. Disini kita akan coba merenungi sedikit hikmah dari perjalanan ibadah haji tersebut.
Banyak makna-makna yang tersirat dalam pelaksanaan Ibadah haji, diantara rukun-rukun ibadah haji sebagai berikut:
Ihram dari Miqat mengajarkan kita suatu kedisiplinan dalam menjalankan perintah Allah Swt, ketika melakukan ihram melampaui miqat maka seseorang akan dikenakan dam, begitu ibadah haji mengajarkan kepada seorang muslim untuk disiplin dan taat kepada aturan Allah. Dengan memakai pakaian Ihram yang tidak berjahit dan berwarna putih mengajarkan kita kepada persamaan derajat, ketika seorang memakai pakaian ihram tidak terlihat siapa penguasa dan siapa rakyat biasa, dengan pakaian ihram kita diajarkan suatu sikap kebersamaan, hanya ketaqwaan kepada Allah sajalah yang membedakan kita.
Thawaf mengelilingi ka`bah sebanyak tujuh kali,Thawaf ini diumpamakan seperti shalat, Rasulullah Saw bersabda:"Thawaf mengelilingi ka`bah adalah seperti sholat akan tetapi kamu boleh berbicara didalamnya,dan barang siapa yang berbicara maka hendaklah membicarakan hal yang baik-baik".
Sa`i yaitu berlari-lari kecil antara bukit safa dan marwa semata-mata untuk melakukan Ibadah kepada Allah, mengingatkan kita pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya yang sedang kehausan, yaitu Siti Hajar dengan anaknya Ismail.
Wukuf di Arafah, mengajarkan kita makna kebersamaan dan mengingatkan kita akan hari kiamat dimana manusia di kumpulkan di padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia, dengan melakukan wukuf di arafah para hujjaj merasakan bahwa hari berkumpul di padang mahsyar itu pasti ada, dan setiap kita akan di minta pertanggungjawabannya.Wukuf di arafah merupakan rukun yang terpenting dalam ibadah haji, sehingga Rasulullah mengatakan "alhajju arafah". Haji itu adalah arafah.
Kemudian setelah wukuf di arafah para hujjaj bermalam di muzdalifah kemudian di mina, para jamaah haji melakukan jumaraat, yaitu melemparkan batu kerikil sebanyak tujuh buah ke masing-masing tempat jumaraat, ini memberikan makna bahwa kita senantiasa berjuang untuk melawan syetan yang senantiasa mengganggu manusia.Ibadah haji merupakan muktamar besar umat Islam di dunia, umat Islam dari seluruh penjuru dunia datang untuk sama-sama mendekatkan diri kepada Allah, suatu ibadah yang tidak di miliki oleh agama lain, hal ini tentunya akan mempererat persatuan dan kesatuan ummat dan akan terjalin ukhuwwah islamiyah yang menyeluruh bagi umat manusia dari seluruh penjuru dunia. Ibadah haji mengajarkan kita sikap thawadhu`, karena setiap kita meninggalkan embel-embel duniawi, kita meninggalkan pangkat dan jabatan serta status sosial kita di masyarakat, tidak ada perbedaan antara seorang gubernur dengan rakyat biasa, tidak ada perbedaan antara orang kaya dan si miskin semua sama, sama-sama memakai baju ihram yang berwarna putih, sama-sama berkumpul di arafah, tidak ada yang meninggikan mereka melainkan derajat ketaqwaan mereka di sisi Allah.
Kemudian bagi kita yang tidak melakukan Ibadah haji disunatkan untuk melakukan puasa Arafah, Sabda Rasulullah:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : "صوم يوم عرفة يكفر ذنوب سنتين, ماضية و مستقبلة....."
Artinya : "Rasulullah Saw bersabda, puasa pada hari arafah akan menghapuskan dosa dua tahun setahun yang sudah berlalu dan setahun yang akan datang.", begitu pentingnya puasa di hari arafah ini bagi kita yang tidak melakukan ibadah haji, maka janganlah sampai hari arafah tersebut berlalu begitu saja di hadapan kita.

Kemudian kita dianjurkan untuk banyak melakukan amal sholeh pada sepuluh hari awal bulan dzulhijjah, sebagaimana sabda rasulullah Saw:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :"ما من أيام العمل الصالح فيها أحب الى الله من هذه الأيام"
Artinya :"Rasulullah Saw bersabda:"tidak ada hari-hari yang amal sholeh dilakukan padanya lebih di cintai oleh Allah selain dari hari-hari ini (yaitu sepuluh hari di bulan dzulhijjah", karena itu ketika memasuki bulan dzulhijjah ini kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah-ibadah dan senantiasa melakukan amal-amal sholeh. Karena Allah akan lebih mencintai orang-orang yang melakukannya pada sepuluh awal bulan dzulhijjah. Semoga bagi kita yang sudah berazzam untuk melaksanakan ibadah haji bisa mempersiapkan bekal taqwa dengan sebaik-baiknya. Sehingga mendapatkan haji yang mabrur. Wallahu A`lam
Oleh Ustadz Arief Taufik, Lc.
Sumber: http://alhijrah.cidensw.net/