Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

12 Februari 2011

Remaja Cerdas, Tolak Valentine!

Tiap tahun membicarakan Valentine. Tiap tahun juga makin banyak Muslim yang sadar untuk mengingatkan saudaranya akan bahayanya hari Valentine. Tapi anehnya, kok ya masih banyak remaja-remaja yang keras kepala tidak mau sadar dan disadarkan akan bahaya yang sedang mengintainya ini. Gimana nggak bahaya kalau hari Valentine itu merusak dari semua segi, mulai akidah hingga ke amaliah. Mulai dari keyakinan kamu sebagai seorang muslim hingga ke perbuatan.

Asal-muasal hari Valentine sendiri tak bisa dilepaskan dari sejarah milik non muslim. Ada versi yang menyatakan bahwa seorang pendeta bernama Valentino rela mati demi membela dua anak manusia memadu cinta dalam sebuah ikatan yang TIDAK sah. Ya, karena satu dan lain hal, kedua remaja yang sedang di mabuk cinta ini nekad melanggar aturan. Versi lain tentang asal-muasal Valentine yaitu bahwa hari ini adalah hari kawinnya burung tertentu lalu ditiru oleh manusia zaman itu. Dan masih banyak versi lainnya yang semuanya itu mengarah ke pergaulan bebas antar lawan jenis.

Nah, jelas banget bahwa dari sejarahnya saja sudah sangat kentara bahwa perayaan ini bukan milik kita, umat Islam. Apalagi bila kita jeli tentang perkembangan perayaan hari Valentine yang semakin tahun semakin mengokohkan saja yang namanya gaul bebas itu. Pesta seks digelar. Miras? Jangan ditanya. Intinya, perayaan Valentine adalah perayaan kemaksiatan yang dibungkus modernitas. Padahal sekali maksiat tetep aja maksiat judul dan isinya. Maka, remaja muslim yang cerdas pastilah gak mungkin ikut-ikutan perayaan semacam ini.

….Masih banyak remaja muslim yang ikut-ikutan merayakan hari Valentine. Mereka gak tahu kalau perayaan Valentine adalah budaya non Islam yang penuh kemaksiatan….
Tapi kok masih banyak remaja yang mengaku dirinya muslim ikut-ikutan merayakan hari Valentine? Ada beberapa faktor. Bisa jadi tuh remaja gak tahu kalau perayaan Valentine adalah budaya non Islam yang berisi kemaksiatan. Sajikan fakta bahwa pesta atau perayaan valentine selalu diisi dengan hal-hal yang berbau pergaulan bebas. Bahkan banyak data menunjukkan penjualan kondom laku keras di malam Valentine ini. Bila remaja itu masih ngotot ikutan merayakan Valentine, maka jelas banget kalo tuh remaja bukan tipe yang cerdas.

Hanya remaja yang tak memakai otak saja yang mau ikut-ikutan perayaan hari Valentine. Mereka ini ibarat kerbau yang dicocok hidungnya dan mengekor saja apa yang dilakukan oleh orang lain tanpa dia paham maknanya. Bagi remaja pintar, ia pasti akan memaksimalkan otaknya plus keimanannya untuk menimbang perbuatan yang akan dilakukannya. Dan tentu saja, perayaan hari Valentine tak masuk ke dalam hitungannya.

Jadi, daripada kamu sibuk mempersiapkan acara Valentinan pada tanggal 14 Februari nanti, mending kamu mempersiapkan diri dan amunisi untuk memahamkan teman-temanmu yang masih keukeuh mau merayakan hari kemaksiatan itu. Kamu bisa mulai dengan menempelkan banyak tulisan-tulisan yang intinya menyadarkan remaja muslim dari acara hari Valentine. Nah, bila ini sudah maksimal kamu lakukan, hasilnya serahkan Allah saja.

….Remaja yang cerdas, so pasti berani suarakan TOLAK VALENTINE dengan tegas....
Remaja yang membaca tulisan dan seruan itu, akan terlihat kualitasnya usai mereka membacanya. Akan terlihat mana yang cerdas yaitu mereka yang mencampakkan ide dan perayaan hari valentine, dan mereka yang membeo yaitu mereka yang tetap ikut-ikutan merayakaannya. Dan remaja muslim berkualitas, so pasti pilih yang pertama. Karena remaja cerdas, berani tegas suarakan “TOLAK VALENTINE”! [riafariana/voa-islam.com]

Re-post from: voa-islam.com


09 Februari 2011

Tips Jitu Buat Cewek Tomboy

Smarteen voa-islam edisi lalu kita telah membahas tren cewek tomboy, yaitu style cewek yang sikap dan tingkahnya kayak kayak cowok. (baca: Jadilah Wanita Perkasa, Bukan Cewek Tomboy!) Mulai dari dandanannya, gaya berpakaiannya, rambutnya, hobinya, sampai ke tingkah segala rupa. Cewek-cewek suka pada bangga kalau mereka mendapat sebutan tomboy.

Kenapa sih kudu ada solusi buat cewek tomboy? Ini tak lain dan tak bukan untuk mengingatkan bahwa kamu tuh cewek dan bukan cowok. Segak maunya kamu jadi cowok toh perabotan alami di diri kamu juga tetep cewek. Mau operasi ganti kelamin? Apa iya sebegitu sebalnya kamu jadi cewek sampe berpikir ke sana? Toh sekali waktu meski jarang dalam hidupmu kamu tetap mengakui bahwa kamu tuh emang cewek.

Karena dalam Islam sendiri jenis kelamin tuh Cuma ada dua, kalo gak cewek yah cowok. Gak ada jenis ketiga, cowok yang kecewakan ato cewek yang kecowokan alias tomboy. Makanya bagi kamu-kamu yang merasa tomboy, cepet insaf. Karena Islam sendiri melarang cewek yang bertingkah laku dan berpakaian seperti cowok.

Jadi cewek berani emang boleh dan kudu lagi. Misal, ketika kamu diajak dugem ato ke hal-hal yang gak bener, kamu kudu berani bilang ‘TIDAK’. Gak pada tempatnya lagi kalo kamu diajak gak bener tapi takut nolak. Tapi inget, jadi cewek berani gak harus tomboy dalam kelakuan. Masa iya, kamu mau bawa golok untuk tidak kepada ajakan maksiat. Enggak kan?

Keras kemauan dan tekad itu bagus, bahkan kudu lagi. Apa yang menjadi cita-citamu kamu kudu berusaha meraihnya. Apa yang menjadi prinsipmu kamu kudu pegang dengan kuat. Tapi jangan salah, ntar prinsip gak berdasar kamu ikuti. Misal, kamu berprinsip teguh pendirian gak bakal ikut-ikutan mode pake jilbab. Kamu pingin jadi dirimu sendiri dengan pake jins belel dan kaos oblong tiap hari. Itu bukan teguh prinsip atuh, tapi nekatz. Udah jelas dalam Islam kan jilbab dan kerudung itu wajib, masa iya kamu masih mau ngotot gak mau pake. Kebangetan banget kalo gitu mah.

Tips Jitu Buat yang Terlanjur jadi Cewek Tomboy

Trus gimana dong bagi yang udah terlanjur ngoboy? Gampang. Kamu percaya gak sih kalo Islam itu mendudukkan cewek sempurna pada posisinya yang mulia? Se-tomboy apa pun kamu, Islam tahu bagaimana harus menyikapinya.

Tips pertama : pake kerudung. Biar pun kamu cewek yang suka bersikap tegas dan gak plin-plan ketika mengambil keputusan, kamu tetap berada pada posisimu yang mulia sebagai cewek dengan memakai kerudung. Ato mungkin postur tubuhmu udah dari sononya berbadan kekar dan hampir mirip cowok, maka gak bakal ada orang yang memanggilmu Tono padahal namamu adalah Tini. Kenapa? Karena identitas kerudung kamu itu. Di mana-mana yang pake kerudung pasti cewek gak mungkinlah cowok. Kecuali wadam or banci yang pura-pura pingin jadi muslimah sejati pake kerudung segala.

Tips kedua: pake jilbab. Ini nih yang bakalan bikin kamu jadi cewek tulen. Why? Karena kalo Cuma kerudung kan bisa dipasangin sama apa aja. Sama jins, sama hem lengan panjang, kaos oblong lengan panjang ato bahkan kain yang bikin kamu kayak lemper alias ketat banget. Jangan salah, terkadang di antara kamu yang tomboy, ada kalanya kamu masih pingin menampilkan sisi kewanitaanmu dengan pake yang ketat-ketat. Ngaku aja deh.

Nah, dengan jilbab yang definisinya kamu udah tahu yaitu pakaian longgar terusan menjulur hingga menutup kaki, maka apa pun kamu adanya, kamu tetap dikenali sebagai muslimah. Gak ada tempat lagi bagi celana jins belel, kaos oblong, kemeja cowok dll kecuali itu semua kamu pake dalam rumah ato sebagai baju dalam jilbabmu itu. Oya, kalo kamu berjilbab kudu ada kain pelapis di dalamnya loh, yaitu baju sehari-hari yang kamu pake dalam rumah. Jadi bukannya under wear aja ato bahkan gak ada lapisan sama sekali.

Dengan jilbab dan kerudung ini, maka setomboy apa pun kamu akan selalu diingatkan secara langsung or gak langsung tentang jati diri kamu sebagai seorang wanita muslimah. Selain itu asah kefemininan perasaan cewek kamu dengan kepedulian social, simpati dan empati ke orang lain. [riafariana]

Re-post from : voa-islam.com


08 Februari 2011

Cinta Rasul: Teladan Terbaik yang Cerdas, Bijak dan Berakhlak Mulia

Oleh: Ali Mustofa Akbar

Cerdas, bijaksana, berakhlak mulia. Dialah Muhammad SAW. Rasul akhir jaman, pemberi peringatan, suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Pembawa risalah penyempurna atas nabi-nabi yang terdahulu.
Dialah kekasih Allah, manusia yang terjaga dari kesalahan, sosok pribadi sempurna, figur terbaik yang pernah ada di dunia. Ia dikagumi, dicintai, sekaligus diikuti oleh umatnya yang beriman. Tidak heran apabila orang barat sendiri mengakui bahwa beliau merupakan tokoh yang paling berpengaruh di dunia. (Michael Hart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia).

Rasulullah sangat mencintai umatnya, itu tercermin bahkan di saat-saat akhir hayatnya ia masih sempat mengucapkan umati…. umati… (umatku… umatku…). Sesaat sebelumnya, beliau juga sempat bercakap-cakap dengan malaikat Jibril yang hendak mencabut nyawanya: “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang sangat lemah. Jibril pun menjawab “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,”
 
Namun hal itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, sorot matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” Tanya Rasul. “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” Jawab Malaikat Jibril.
 

Subhanallah, betapa cintanya Muhammad kepada kita, sampai-sampai menjelang akhir hayatnya pun masih memikirkan umatnya. Meskipun begitu, memang tidak semua orang menyukainya. Ada juga orang-orang yang membencinya. Itulah kaum kafir yang tidak mau menerima kebenaran Islam. Yang mungkin telah dibutakan mata dan hatinya.
 

Ketika awal-awal dakwah beliau di Mekkah. Orang-orang kafir Quraisy juga sangat membenci Rasulullah SAW, bukan karena pola sikapnya, namun karena agamanya, karena ideologinya.
Mereka tidak rela agama nenek moyangnya diganti dengan Islam. Berbagai halangan, rintangan, tuduhan miring, bahkan sampai percobaan pembunuhan pernah dilakukan oleh mereka (kafir Quraisy) dalam merintangi dakwah Islam. Merekalah musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya.
Allah SWT berfirman: “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS Al Furqaan 31).
 

Dan kini, setelah beliau wafat pun, kedengkian orang-orang kafir itu tidak ada habisnya. Berbagai penghinaan, pelecehan, cercaan juga masih dilakukan oleh mereka. Sebagai contohnya ialah pembuatan karikatur Muhammad, kartun-kartun nabi, tuduhan miring, dan lain sebagainya.
 

Namun hal itu tidaklah mampu melunturkan kemuliaan sosok Muhammad SAW. Ia tetaplah sang kekasih Allah, suri tauladan terbaik bagi manusia. Mungkin saja musuh-musuh Allah itu tidak tahu, bahwa kita sangat mencintainya, melebihi cinta pada diri ini. Apapun bisa kita perbuat demi Allah dan Rasul-Nya.
 

Mereka harus tahu, bahwa kita adalah generasi Islam, penerus perjuangan Muhammad dan para sahabat, yang menolak untuk hidup diatur dengan hukum sekulerisme demokrasi. Karena itu, kita memilih menjadi pemberani.
 

Kita adalah generasi Islam, yang percaya setiap hukum dan perundang-undangan buatan manusia hanyalah akan memberikan kenistaan. Karena itu, kita akan berusaha untuk memutus rantai kejahiliyahan melalui dakwah di tempat kita berpijak. Sebagaimana Muhammad telah melakukannya dahulu bersama sahabat.
 

Kita adalah generasi Islam, yang sangat tidak percaya dengan prinsip demokrasi, nasionalisme, kesetaraan gender, pluralisme dan sekulerisme. Karena itu, kita menolak dengan tegas dan lugas tanpa basa-basi.
 

Kita adalah generasi Islam, yang ingin membangun sebuah negara yang bermartabat dan terhormat, mampu mempersatukan kaum Muslim sedunia, melindungi setiap warga negara, serta memuliakan manusia-manusia yang menjadi rakyatnya, dengan syariah dalam bingkai khilafah Islamiyah. Allahu Akbar! [voa-islam.com]

Re-post from: voa-islam.com


Menghindarkan Hubungan Dari Konflik Yang Berkepanjangan

Setiap Suami istri pasti pernah dan akan terus melalui konflik selama mereka masih terikat dalam satu hubungan pernikahan. Pelajari trik berikut ini agar pertengkaran yang berlangsung tidak menjadi semakin 'panas':

1. Berpikiran Positif
Berbeda pendapat bukan berarti suami sudah tak sayang atau tak mau mengerti sama sekali perasaan Anda. Jangan sekalipun Anda berpikiran negatif pada beliau. Apapun yang menjadi masalah, tetaplah melandasi semuanya dengan cinta dan kasih sayang.


2. Kenali Masalah atau Isu yang Sesungguhnya

Perbedaan pendapat yang kemudian menjadi ajang debat kusir terkadang disebabkan pasangan tersebut kurang mengenali apa masalah sesungguhnya. Hanya sedikit pasangan yang berdebat mengetahui dengan pasti apa yang mereka perdebatkan. Bila sudah saling 'serang', masalah dapat melebar ke mana-mana. Kalau ini yang menjadikan pertengkaran Anda dan pasangan menjadi semakin 'panas', cari tahu apa masalah sesungguhnya dan tetapkan yang menjadi batasan-batasan pembicaraan. Dengan mengenali apa masalah sesungguhnya, solusi dari konflik pun sudah ditemukan 50 %.

3. Temukan Waktu dan Tempat yang tepat
Saat bertengkar, selesaikan masalah secepatnya, jangan sampai terbawa sampai ke kamar apalagi tempat tidur. Namun jika pertengkaran terjadi di malam hari, tubuh dan pikiran sudah terlanjur lelah, solusi pun tidak akan dijumpai. Temukan waktu di mana tubuh dan pikiran segar bugar, jauh dari siapapun (apalagi dari anak), dan matikan telpon. Bila pada saat itu, Anda kurang siap, katakan saja terus terang pada suami, Anda sedang lelah dan tidak siap menghadapi masalah, agar besok pagi saja masalah itu dibicarakan. Selain waktu, tempat untuk 'saling berbicara' ini diusahakan jangan di kamar tidur tapi di tempat lainnya yang sepi dan berprivasi.

4. Pelajari Cara Berkomunikasi yang Baik dengan Pasangan
Sudah menikah bertahun-tahun tidak menjadi patokan Anda sudah tahu cara berkomunikasi dengan pasangan. Dengan tidak saling menyalahkan, memojokkan, benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan pasangan dan mencoba untuk menempatkan diri pada posisinya, Anda dan pasangan sudah menemukan jalan yang benar untuk menemukan solusi dari masalah Anda.

5. Hindari Pengulangan
Kalau yang dimasalahkan adalah hal-hal yang sama, berarti pembicaraan Anda tidaklah efektif dan pertengkaran yang lalu belum menemukan titik tengahnya. Cari metode lain untuk menyampaikan masalah Anda. Terkadang memenangkan pertengkaran bukanlah tujuan yang sesungguhnya kalau semuanya bisa mempertaruhkan pernikahan Anda yang bahagia.

6. Membuka Pikiran
Langkah ini adalah kelanjutan dari kemampuan Anda untuk 'mendengarkan'. Setelah Anda tahu bagaimana memposisikan diri di posisi pasangan, cobalah untuk menerima hal-hal yang menjadi dasar pemikiran pasangan Anda.

7. Kontrol Emosi
Hal yang terkadang tidak dapat dikendalikan ketika bertengkar adalah emosi. Bila emosi sudah meluap, kata-kata kasar keluar dari mulut dan terkadang otot pun dipergunakan, percayalah, solusi dari masalah Anda akan terbang jauh saat itu juga.

VanDerZwet Stafford, Executive Director of Ontario Association for Marriage & Family Therapy, mengungkapkan, ada dua tipe gaya 'berdiskusi' yang biasanya dianut para pasangan. Pertama adalah pasangan yang membutuhkan waktu dan ruang untuk membicarakan satu masalah dan yang kedua adalah pasangan yang senang langsung membicarakan masalah pada saat itu juga. Kalau Anda berdua mewakili masing-masing tipe seperti itu, pergunakan waktu yang tersedia untuk latihan pernafasan dengan menarik nafas panjang, lakukan olah tubuh dan tuangkan pikiran Anda dalam tulisan. Anda juga bisa membicarakan masalah tersebut pada orang lain yang bisa Anda percayakan.

(sydh/dtc)
Re-post from: voa-islam.com


07 Februari 2011

Jadilah Wanita Perkasa, Bukan Cewek Tomboy!

Tomboy. Kata itu berasal dari Tom yang boy, alkisah sih begitu awalnya. Tapi akhirnya kosakata ini identik dengan cewek yang sikap dan tingkahnya kayak Tom, eh…maksudnya kayak cowok. Mulai dari dandanannya, gaya berpakaiannya, rambutnya, hobinya, sampai ke tingkah segala rupa. Cewek-cewek suka pada bangga kalau mereka mendapat sebutan tomboy.

Coba lihat saja sinetron yang mengexplore sikap tomboy ini dalam Kecil-kecil jadi Manten yang tokoh utamanya bernama Rohaye (sinetron jadul). Doi berpenampilan ala cowok. Mulai rambut yang dipotong gundul ala Ronaldo, baju kaos dan celana yang identik baju kebangsaan cowok, suka berkelahi, suka panjat-panjat pohon, main sepak bola meski doi cewek sendiri, hingga gaya berjalan semua dibuat sedemikian rupa biar kayak cowok beneran. Belum lagi sinetron-sinetron remaja yang terkadang menggambarkan seorang cewek yang mukulin cowok hingga babak belur.

Itu di sinetron. Belum lagi media iklan yang juga suka banget munculin tokoh-tokoh tomboy terutama produk-produk buat remaja. Coba deh lihat di sekeliling kamu, akan banyak lagi dijumpai fenomena cewek tomboy ini. Seakan-akan jadi cowok tuh enak banget, cool man! Tapi apa iya sih jadi cewek yang bertingkah kayak cowok itu emang kelihatan cool dan asyik?

....Cewek tomboy itu bukan karena faktor genetik kayak semacam penyakit, melainkan karena dibentuk oleh lingkungan....

Munculnya cewek tomboy

Cewek tomboy itu bukan karena keturunan, juga bukan penyakir menular hehe, ngelantur. Maksudnya cewek tomboy itu bukan karena adanya faktor genetik kayak semacam penyakit. Bukan dan gak bener itu. Munculnya fenomena cewek tomboy karena dibentuk oleh lingkungan. Faktor keluarga yang cenderung bebas, mau jadi tomboy kek itu bukan menjadi perhatian ortu. Atau saudara yang kebetulan cowok semua. Atau bahkan bentukan dan didikan keluarga karena memandang bahwa jadi cowok itu jauh lebih oke dan bergengsi daripada jadi cewek. Ada lho keluarga yang begini. Anak cewek sama cowok diperlakukan beda ma artu juga lingkungan., Jadilah yang terlahir sebagai cewek gak pede dengan kecewekannya dan memilih bertingkah sebagai cowok.

Atau bisa juga cewek tomboy karena trend. Banyak banget tuh para cowok suka sama style cewek tomboy. Dengan alasan kalo cewek tomboy lebih enak diajak gaul daripada yang cewek beneran, atau orangnya gak terlalu rewel dan manja. Bisa menghidupkan segala suasana dan lain-lain. Sehingga cewek yang awalnya gak tomboy karena tuntutan jaman dan trend akhirnya mulai coba-coba untuk bergaya tomboy. Celana jins dan kaos oblong, topi dipakai terbalik kayak abang becak, maennya sama cowok mulu, tertawa, berbicara dan bergaya ala cowok agar sebutan cewek tomboy melekat pada dirinya.

....Ada yang gayanya aja kayak tomboy, diputusin cowoknya udah nangis Bombay....

Tapi, jadi cewek tomboy membawa konsekuensi tersendiri loh. Ada yang gayanya aja kayak tomboy, diputusin cowoknya udah nangis Bombay. Ih..jijay banget kan? Atau gayanya sok cowok, tapi ternyata ada ada cowok kiyut lewat mata tetep aja melotot. Itu mah cewek banget atuh.

Wanita-wanita Perkasa Teladan Umat

Kalau kamu mengaku seorang cewek yang gak suka lemat-lemot, coba bandingkan dengan sosok-sosok perkasa ini.

Asma binti Abu Bakar, beliau sahabat wanita terkemuka yang masuk Islam sejak dini. Bukan hanya pandai melantunkan syair dan fasih berbahasa tapi beliau juga ikut dalam perang Yarmuk sehingga dijuluki ‘Dzaatin Nithaqain’ atau wanita bersabuk dua.

Lalu ada Asma binti Yazid Al-Anshoriah. Beliau adalah seorang orator bangsa Arab yang terkemuka, berani dan selalu tampil ke depan. Di perang Yarmuk pun kiprah beliau layak diperhitungkan ketika berhasil membunuh sembilan prajurit Romawi di medan pertempuran. Masih ada Gazalah Al-Haruriah, Hindun binti Utbah bin Rabiah, dan Juwairiyah binti Abu Sofyan, yang juga turut berpartisipasi dalam perang Yarmuk baik sebagai penyedia minuman dan tenaga medis maupun terjun langsung dalam kancah perang dan membunuh musuh-musuh Islam.

....Kalau kamu mengaku seorang cewek yang gak suka lemat-lemot, coba bandingkan dengan sosok-sosok perkasa para wanita shahabat Nabi...

Dalam perang Khadisiyah ada Khansa binti Amru yang syair-syairnya mampu membuat Rasulullah kagum. Khansa ini pula yang mendorong semangat keempat putranya dalam perang sehingga semuanya mati syahid. Belum lagi kalau kamu tahu yang namanya Khaulah binti Azwar Al-Asadi yang aktifitas kemiliterannya mirip dengan Khalid bin Walid. Ada Laila Al-Gifariah yang dari golongan wanita terpandang tapi rela bersusah-susah ikut Rasulullah ke medan tempur untuk mengobati pejuang yang sakit dan terluka. Bahkan pada waktu perang ‘Jamal’ beliau ikut berangkat ke Basrah berperang di barisan Ali bin Abi Tholib.

Rabayi’ binti Mi’waz, sahabat wanita yang membaiat Rasulullah dan turut serta dalam berbagai pertempuran. Lalu Ummu Haram yang gabung dengan pasukan kaum muslimin dalam penaklukan Ciprus bareng suaminya. Dalam pertempuran ini beliau terjatuh dari kudanya dan menjadi syahidah. Lalu ini neh yang lebih dahsyat lagi, Ummu Imaroh. Prestasi beliau jangan ditanyakan. Baiat Aqobah, Perang Uhud, Peramaian Hudaibiyah, Perang Khaibar dan perang Hunain, semuanya ada partisipasi wanita perkasa ini. Di perang Uhud beliau terluka sebanyak dua belas goresan dan ketika perang Yamamah sebelah tangannya putus. Subhanallah.

Masih Nekad Tomboy?

Kalau kamu emang pingin jadi cewek yang tangguh dan tegar, buktikan! Jangan cuma tampilan aja tomboy tapi menghadapi cobaan hidup kamu langsung melempem. Dan yang utama, tomboy bukan dalam hal penampilan dan tingkah laku. Karena sungguh Allah akan melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Emang gak takut kena laknat Allah? Hiii….

....Kalau kamu emang pingin jadi cewek yang tangguh dan tegar, buktikan! Jangan cuma tampilan aja tomboy tapi menghadapi cobaan hidup kamu langsung melempem....

Tapi itu bukan berarti kamu gak boleh jadi cewek yang bersikap tegas, teguh pendirian, kuat kemauan, dan mandiri. Sebaliknya, muslimah emang kudu punya sikap-sikap seperti itu. Gak jaman lagi jadi cewek muslimah tapi dikit-dikit cengeng, mudah putus asa, gak bisa mandiri dan aleman banget. Ih….

So, tomboy dalam penampilan is no way. Tegas dan teguh pendirian? Kudu lagi. [ria fariana/voa-islam.com]

Re-post from: voa-islam.com


Mati Mendadak Seperti Adjie Makin Banyak di Akhir Zaman, Waspadalah!


Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala limpahan nikmat. Tidak ada satu nikmat kecuali itu berasal dari-Nya. Karenanya, kita harus senantiasa bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan segala nikmat untuk taat kepada-Nya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya hingga bengkak kedua kakinya. Semoga shalawat dan salam juga dilimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya serta siapa saja yang meniti sunnah-sunnahnya.

Kabar duka menimpa anak negeri ini dini hari tadi sekitar pukul 00.00 WIB (Sabtu, 5 Februari 2011). Raden Pandji Chandra Pratomo Samiadji Massaid atau yang lebih dikenal dengan Adjie Massaid, politikus senayan dari partai Demokrat menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Selatan. Kabarnya, ia meninggal karena serangan jantung setelah sebelumnya sempat bermain futsal.

Kematian Adjie yang bertubuh atletis dan dikenal memiliki gaya hidup sehat dengan rajin berolahraga, tergolong mendadak. Sehingga mengejutkan semua pihak, (tulis Kompas.com/ Sabtu, 5 Februari 2011). Bahkan menurut rekan se-profesi dan satu partai dengannya, Ruhut Sitompul, selama ini Adjie tidak pernah mengeluh tentang penyakitnya.

"Saya kaget. Enggak ada tanda-tanda, siang masih sama saya, rapat fraksi. Kami pisah dia mau Jumatan (shalat Jumat)," katanya ketika ditemui di kediaman Adjie, Jalan Taman Cilandak II Blok E Nomor 14, Cilandak Barat, Jakarta, Sabtu (5/2/2011).

Kematian Datang Tanpa Diundang
Sesungguhnya kematian merupakan misteri bagi manusia. Tak seorangpun yang tahu kapan datangnya. Namun satu kepastian bahwa ajal (waktu kematian) seseorang sudah tercatat jauh hari di Lauhul Mahfudz sebelum manusia diciptakan. Dan ketika seseorang sudah tiba ajalnya, maka tidak bisa diajukan barang sesaat ataupun diundurkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)

Setelah kematian maka kesempatan beramal telah habis. Manusia akan mendapatkan balasan dari amal-amal perbuatannya di alam kubur, berupa nikmat atau adzab kubur. Dan ketika sudah terjadi kiamat, dia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah.

“Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(QS.Al-A’raf:35)

Sedangkan orang yang kafir dan ingkar terhadap kebenaran Islam, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”(QS.Al-A’raf:36)

Kematian Mendadak Semakin Marak di Akhir Zaman
Kasus Meninggal mendadak seperti yang terjadi pada Adjie Massaid sudah atau sering kita dengar dalam keseharian kita. Dan di akhir zaman, jumlahnya semakin banyak sebagimana yang diungkapkan oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa'ah.

Dalam kitabnya tersebut, Yusuf al-Wabil menyebutkan bahwa kematian yang datang tiba-tiba atau mendadak merupakan salah satu dari tanda dekatnya kiamat. Hal ini didasarkan pada beberapa kabar hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Salah satunya hadits marfu' dari Anas bin Malik radliyallah 'anhu,

إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ . . . أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفُجْأَةِ

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah . . . akan banyak kematian mendadak." (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' al-Shaghir no. 5899)

Fenomena kematian mendadak ini sudah sering kita saksikan pada masa sekarang. Orang yang sebelumnya sehat bugar, -beraktifitas seperti biasa, atau bahkan berolah raga sepak bola, futsal, badminton dan semisalnya- tiba-tiba ia terjatuh lalu meninggal dunia. Hal ini dibenarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berdasarkan sebuah penelitian, setiap tahunnya banyak orang meninggal karena stroke dan serangan jantung. Bahkan disebutkan kalau penyakit jantung menempati urutan pertama yang banyak menyebabkan kematian pada saat ini.

Dalam hadits di atas terdapat mukjizat ilmiah yang kita benarkan melalui kajian kedokteran yang harus diakui. Mukjizat ini membuktikan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah utusan Allah yang tidak berbicara berdasar hawa nafsunya, tapi yang beliau sampaikan adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada beliau.

Rasanya orang yang hidup pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tak pernah membayangkan akan datangnya zaman yang merebaknya kematian mendadak, kecuali berdasarkan wahyu ilahi yang menyingkap fenomena ini.

Maksud Kematian Mendadak

Banyak sebab kematian, tapi kematian itu tetap satu. Hal ini menunjukkan bahwa kematian memiliki sebab, seperti sakit, kecelakaan, atau bunuh diri dan semisalnya. Sedangkan kematian yang tanpa didahului sebab itulah maksud kematian yang mendadak yang belum bisa diprediksi sebelumnya.

Seiring majunya ilmu kedokteran, manusia bisa menyingkap tentang sebab kematian seperti kanker, endemik, atau penyakit menular. Penyakit-penyakit ini mengisyaratkan dekatnya kematian, tetapi sebab yang utama adalah mandeknya jantung secara tiba-tiba yang datang tanpa memberi peringatan.

Para ulama mendefinisikan kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.

Imam al-Bukhari dalam shahihnya membuat sebuah bab, بَاب مَوْتِ الْفَجْأَةِ الْبَغْتَةِ "Bab kematian yang datang tiba-tiba". Kemudian beliau menyebutkan hadits Sa'ad bin 'Ubadah radliyallah 'anhu ketika berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku yakin seandainya ia berbicara sebelum itu, pastilah dia ingin bersedekah. Maka dari itu, apakah dia akan mendapat pahala apabila jika aku bersedekah untuknya?" Beliaupun menjawab, "Ya". (Muttafaq 'alaih)
. . . kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.

Kematian Mendadak Dalam Pandangan Ulama

Sebagian ulama salaf tidak menyukai kematian yang datang secara mendadak, karena dikhawatirkan tidak memberi kesempatan seseorang untuk meninggalkan wasiat dan mempersiapkan diri untuk bertaubat dan melakukan amal-amal shalih lainnya. Ketidaksukaan terhadap kematian mendadak ini dinukil Imam Ahmad dan sebagian ulama madzhab Syafi'i. Imam al-Nawawi menukil bahwa sejumlah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang shalih meninggal secara mendadak. An-Nawawi mengatakan, "Kematian mendadak itu disukai oleh para muqarrabin (orang yang senantiasa menjaga amal kebaikan karena merasa diawasi oleh Allah)." (Lihat (Fathul Baari: III/245)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Dengan demikian, kedua pendapat itu dapat disatukan." (Fathul Baari: III/255)

Terdapat keterangan yang menguatkan bahwa kematian mendadak bagi seorang mukmin tidak layak dicela. Dari Abdullah bin Mas'ud radliyallah 'anhu, dia berkata, "Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ini adalah lafadz Abdul Razaq dan al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, sedangkan lafadz Ibnu Abi Syaibah, "Kematian mendadak merupakan istirahat (ketenangan) bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang kafir." (HR. Abdul Razaq dalam al Mushannaf no. 6776, al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. no. 8865)

Dari Aisyah radliyallah 'anha, berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai kematian yang datang tiba-tiba. Lalu beliau menjawab,
رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِفَاجِرٍ

"Itu merupakan kenikmatan bagi seorang mukmin dan merupakan bencana bagi orang-orang jahat." (HR. Ahmad dalam al-Musnad no. 25042, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no. 10218. Syaikh al Albani mendhaifkannya dalam Dha'if al Jami' no. 5896)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dan Aisyah radliyallah 'anhuma, keduanya berkata, "Kematian yang datang mendadak merupakan bentuk kasih sayang bagi orang mukmin dan kemurkaan bagi orang dzalim." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf III/370, dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al Kubra III/379 secara mauquf).

Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya.

Alangkah indahnya hadits yang dijadikan sebagai penguat oleh Imam al-Baihaqi dalam al Sunan al-Kubra pada kitab "Al-Janaiz" Bab, "Fi Mautil Faj'ah", dari hadits Abu Qatadah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dilalui iring-iringan jenazah. Beliau lalu bersabda, "Yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa maksud yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya?" Beliau menjawab,

الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

"Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat (merasa aman dan tenang) darinya." (HR. Muslim no. 950, Ahmad no. 21531)

Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya. Sedangkan Kematian mendadak yang dialami seorang fajir merupakan kabar gembira bagi hamba Allah. Mereka akan terbebas dari gangguannya. Di antara gangguannya adalah kedzalimannya terhadap mereka, kesenangannya melakukan kemungkaran dan jika diingatkan malah menantang dan itu menyulitkan mereka. Jika diingatkan malah menyakiti dan bila didiamkan mereka menjadi berdosa. Sedangkan istirahatnya binatang adalah dikarenakan sang fajir tadi selalu menyakiti dan menyiksanya serta membebani di luar kemampuannya, tidak memberinya makan dan yang lainnya. Sedangkan istirahatnya negeri dan pepohonan adalah karena perbuatan jahat sang fajir hujan tidak turun, dia mengeruk kekayaannya dan tidak mengairinya.

"Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ibnu Mas'ud

Menyikapi Kematian Mendadak

Bagi orang yang berakal sehat tentu akan mengambil pelajaran dari fenomena yang ia saksikan. Terlebih fenomena tersebut telah disampaikan oleh orang yang terpercaya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka sepantasnya ia segera kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebelum kematian itu menjemputnya.
Imam al-Bukhari pernah berkata,

Peliharalah waktu ruku'mu ketika senggang.

Sebab, boleh jadi kematian akan datang secara tiba-tiba

Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar

Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba

Dan setelah memahami adanya kematian yang mendadak, dan semakin sering terjadi pada akhir zaman (termasuk zaman kita ini), hendaknya kita mempersiapkan diri dengan bersegera menyambut seruan Allah untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan perintah Allah yang paling utama adalah memurnikan tauhid kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, baik dalam masalah ibadah dan pengabdian, juga dalam masalah ketaatan dan ketundukan kepada syariat-Nya.

Sesungguhnya kematian akan tetap datang ke manapun kita lari dan di manapun kita sembunyi. Tidak ada kekuatan di alam raya yang bisa melawan ketetapan ilahi ini. Dan setelah kematian, setiap orang akan mendapat balasan dari amal yang telah dikerjakannya di dunia. Maka bertakwalah kepada Allah, Wahai hamba-hamba Allah! Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal ketika kematian datang dan minta diberi kesempatan untuk beramal. Sesungguhnya ajal tidak bisa ditangguhkan dan tidak bisa ditunda barang sesaat.

Ketahuilah! sesungguhnya dunia ini terus berjalan ke belakang meninggalkanmu, dan akhirat berjalan mendatangi. Ingatlah saat kematian dan perpindahan ke alam Barzah. Dan (ingatlah) yang akan tergambarkan di hadapanmu, berupa banyaknya keburukan dan sedikitnya kebaikan. Maka, apa yang ingin engkau amalkan pada saat itu, segeralah amalkan sejak hari ini. Dan apa yang ingin engkau tinggalkan saat itu, maka tinggalkanlah sejak sekarang.

Maka seandainya setelah mati, kamu dibiarkan. Sesungguhnya kematian itu merupakan kenyamanan bagi seluruh yang hidup. Namun. jika kamu telah mati, kamu pasti dibangkitkan dan akan ditanya tentang segala sesuatu, lalau diberi balasan dari setiap perbuatan. Kalau seperti itu, maka kematian merupakan sesuatu yang menakutkan dan menghawatirkan. Wallahu Ta’ala a’lam!

Re-post from: voa-islam


05 Februari 2011

Doa Agar Dihindarkan dari Pemimpin Zalim


Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlumpah kepada hamba dan utusan-Nya, Muhammad bin Abdillah, keluarga dan para sahabatnya.

Pemimpin yang adil merupakan anugerah yang luar biasa dari Allah bagi umat manusia. Melalui dia, Allah melimpahkan kebaikan dan keberkahan sebagaimana yang terjadi pada zaman Khulafa' Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu 'anhum.

Allah sangat memuliakan para pemimpin yang adil, sehingga menjanjikan untuk mereka naungan pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu hari di saat manusia dikumpulkan di padang mahsyar, matahari didekatkan dan manusia tenggelam oleh keringat mereka.
Disebutkan dalam Shahihain, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 


سَبْعَة يُظِلّهُمْ اللَّه فِي ظِلّه يَوْم لَا ظِلّ إِلَّا ظِلّه : إِمَام عَادِل

 
“Ada tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka di bawah naungan-Nya yang tiada naungan pada hari itu kecuali naungan-Nya: (Yang pertama) Imam yang adil . . . ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan menurut al-Qadhi ‘Iyadh, disebutkannya imam yang adil pada urutan pertama karena banyaknya manfaat dan mashlahat yang dihasilkannya. (Lihat: Syarah Sunan al-Nasai: 7/102)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,


إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ . . .الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil, kelak di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya di sebelah kanan Allah Azza wa Jalla. . . . yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan apa saja yang mereka pimpin.”

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya dan beliau menghasankannya, dari hadits Abi Sa’id al-Khudri secara marfu’, “Manusia paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat tempatnya dengan Allah adalah pemimpin yang adil.”

Siapa Pemimpin yang Adil?

Ibnul Hajar rahimahullaah dalam Fathul Baari, ketika menjelaskan tentang hadits naungan Allah di atas mengatakan, “Dan penafsiran terbaik terhadap pemimpin yang adil adalah dia yang mengikuti perintah Allah dengan meletakkan/menempatkan segala sesuatu pada tempatnya tanpa berlebihan dan meremehkan. Dan disebutkannya pada urutan pertama karena banyaknya manfaat (yang diwujudkan) melaluinya.”


Pemimpin yang adil adalah mereka yang takut kepada Allah dan menerapkan syariat-Nya di muka bumi. Karenanya, dia selalu berusaha menjadikan rakyatnya mengikuti syariat Allah, menjaga agama mereka, dan menunaikan hak-hak rakyatnya dengan baik.

Sebaliknya pemimpin yang tidak adil adalah mereka yang tidak takut kepada Allah dan menelantarkan Syariat-Nya. Berbuat dalam kepemimpinannya yang mendatangkan murka Allah, melarang rakyatnya menerapkan syariat-Nya, dan bahkan berbuat sesuatu yang membahayakan agama mereka. Maka pemimpin seperti ini tidak akan pernah termasuk dalam tujuh golongan yang akan diberikan naungan oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan dicintai dan dimuliakan oleh-Nya.


Karena tidak adanya rasa takut kepada Allah, maka dia tidak banyak pikir dalam menzalimi rakyatnya. Memeras melalui pajak atau menyedot sumber daya alam mereka untuk kepentingan perutnya sendiri tanpa memikirkan penderitaan rakyatnya. Hak-hak rakyat dia telantarkan dan tidak ditunaikan. Maka kita berlindung kepada Allah dari kejahatan pemimpin seperti ini. Kita memohon kepada-Nya agar tidak dipimpin oleh orang-orang semacam itu. Karena, kepemimpinan mereka akan membahayakan agama kita, kita dipaksa dengan kasar atau lembut untuk mengingkari ajaran Rabb semesta Alam. Kemaksiatan dia biarkan, sedangkan amar ma’ruf nahi munkar tidak ditunaikan. Bahkan, ketika sekelompok dari umat Islam yang bangkit untuk menerapkan ajaran Tuhannya dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, serta merta disudutkan dan diperangi. Wal ‘yadhu billah!

. . . penafsiran terbaik terhadap pemimpin yang adil adalah dia yang mengikuti perintah Allah dengan meletakkan/menempatkan segala sesuatu pada tempatnya tanpa berlebihan dan meremehkan.
(Ibnul Hajar)


Doa Apa yang Bisa Dipanjatkan?

Dalam tulisan terdahulu, Doa Agar Terhindar dari Musibah Agama disebutkan beberapa kandungan yang ada di dalamnya. Ringkasnya: supaya kita diberikan kebaikan dalam urusan dien sehingga menghantarkan kita kepada surga-Nya. Lalu kita berlindung kepada Allah dari musibah yang menimpa agama kita dan memohon jangan dijadikan dunia sebagai tujuan utama hidup kita. Dan dipenghujung doa disebutkan,

وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا


“Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami."

Yaitu memohon agar jangan dijadikan sebagai umat yang dikalahkan dan dikuasai orang-orang kafir dan orang-orang zalim. Dan memohon agar Allah tidak menjadikan orang-orang zalim sebagai penguasa atas kita, karena pemimpin yang zalim tidak akan mengasihi rakyatnya.

Bahaya Pemimpin Zalim

Pemimpin yang durhaka kepada Rabbnya dan bertindak zalim kepada rakyatnya menjadi sebab dihancurannya suatu negeri. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا


“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’: 16)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang makna ayat di atas, “Kami beri kuasa orang-orang buruknya, lalu mereka bertindak durhaka di dalamnya. Maka apabila mereka telah bertindak seperti itu, aku hancurkan mereka dengan adzab.” (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat tersebut)

Dan itulah makna firman-Nya,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا


“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu.” (QS. Al-An’am: 123)

Dan ketika jumlah para pemimpin dan penguasa negeri yang seperti itu bertambah banyak –dan di akhir zaman jumlah mereka semakin banyak, seperti yang sudah kami tulis dalam: Sinyalemen Nabi: Banyak Pemimpin Bejat dan Hina di Akhir Zaman- maka kehancuran negeri itu semakin dekat. Hal seperti yang dikatakan Imam Al-‘Ufi, dari Ibnu Abbas tentang makna QS. Al-Isra’: 16 di atas adalah: aktsarnaa ‘adadahum (Kami perbanyak jumlah mereka). Dan seperti itu pula yang dikatakan Ikrimah, al-Hasan al-Bashri, al-Dhahak, Qatadah, al-Zuhri dan lainnya. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir dalam penafsiran ayat tersebut).

Karenanya kita berlindung kepada Allah dari memiliki pemimpin yang durhaka kepada Allah, menelantarkan syariat-Nya dan tidak mengasihi rakyatnya. Salah satunya dengan membaca doa yang sangat agung berikut ini:




"Ya Allah, karunikanlah untuk kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan (karuniakanlah untuk kami) ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu, serta (karuniakanlah untuk kami) keyakinan hati yang dapat meringankan kami dari berbagai cobaan dunia. Jadikankan kami bisa menikmati dan memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama kami hidup. Dan jadikan semua itu sebagai pewaris bagi kami (tetap ada pada kami sampai kematian). Jadikanlah kemarahan dan balas dendam kami hanya kepada orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. (Ya Allah) Janganlah Engkau jadikan musibah kami adalah yang terjadi pada dien kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami." (HR. Al-Tirmidzi dalam Sunannya no. 3502, al-Nasai dalam 'Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 402, Al-Hakim 1/528, Al-Baghawi no. 1374 dari hadits Ibnu Umar. Imam al-Tirmidzi mengatakan hasan Gharib. Syaikh Al-Albani menghassankan hadits ini dalam Shahih al-Jami' al-Shaghir no. 1268) Wallahu Ta’ala a’lam…

[Pur/WD/voa-islam.com]
Re-post from: voa-islam.com


03 Februari 2011

Perginya Fir'aun Dari Mesir

Editorial
membuka hati dan pikiran kita

Hanya menunggu waktu, yang berbilang jam, ‘Fir’aun' Mubarak akan turun dari kekuasaannya. Tidak ada lagi yang dapat menopang kekuasaannya. Militer tidak mau lagi menjadi alat Mubarak. Seluruh rakyat Mesir dari berbagai golongan sudah muak dengan kekuasaannya. Kekuasaan Mubarak hanya meninggalkan penderitaan bagi rakyatnya.

Sekutunya yang selama ini melindunginya cuci tangan. Obama, Hallary, dan David Cameron, sudah mengisyarakatkan agar Mubarak mengundurkan diri. Satu-satunya yang masih berharap Mubarak menjadi presiden hanyalah Israel. Karena, Mubarak sekarang menjadi ‘tuhannya’ Israel, yang dapat menyelamatkannya dari bahaya kehancuran.

Mubarak sudah berkuasa lebih dari 30 tahun. Mubarak sama kejamnya dengan Gamal Abdul Nasser, yang membunuhi rakyatnya secara biadab. Mengelola negara dengan tangan besi. Mubarak juga menjadi ‘anjingnya’ Israel, menghadapi gerakan Islam, dan negara-negara Arab yang menjadi ancaman terhadap negara Zionis. Mubarak tak lain ‘bandit’ yang bertopeng penguasa. Merampok uang rakyat Mesir, yang disimpan di bank-bank di Eropa, nilainya mencapai Rp 346 triliun. Sama seperti Presiden Tunisia El Abidin, yang merampok kekayaan Tunisia, 1,5 ton emas batangan, dan uang Rp 60 triliun yang disimpan di bank-bank di Eropa.

Inilah karakter para penguasa diktator Arab. Kejam, biadab, menindas, memenjarakan, membunuh, memiskinkan, dan merampok kekayaan negara, yang tak pernah bisa dibayangkan oleh akal. Kekuasaannya yang demikian panjang, hanya menciptakan rakyat menjadi bodoh, tak memiliki pekerjaan, dan banyak orang yang terdidik, akhirnya melarikan diri ke negara-negara lainnya.

Tetapi, betatapun kuatnya kekuasaan diktator, akhirnya luruh juga, dan masa kekuasaannya berakhir. Seperti Fir’aun yang pernah mengatakan,”Ana rabbukum a’la” (Saya tuhanamu yang maha tinggi), ucap Fir’aun. Penguasa kejam yang kekuasaannya hanya di topang oleh Israel dan Amerika, sudah menjadi ‘tuhan’, dan sangat arogan, dan menghinakan rakyatnya. Tidak memiliki belas kasihan sedikitpun terhadap saudara sesama Muslim, dan justru membiarkan dalam penderitaan.

Sikapnya Mubarak itu dipertontonkan ketika rezim Zionis-Israel melakukan agresi ke Gaza, yang membunuhi Muslim Gaza, justru penguasa Mesir itu menutup warga Gaza masuk ke Mesir. Orang-orang yang terkena serangan udara Israel, yang sudah terluka parah pun, tidak boleh masuk Mesir. Betapa kejam dan biadabnya Mubarak itu.

Sekarang si Fir’aun yang sudah akan tenggelam di Laut Merah itu, tak ada lagi yang mau menjadi penolongnya, rakyatnya sudah tidak ingin melihatnya lagi. Teman-teman yang menjadi sekutunya melarikan diri, dan membiarkannya sendirian. Anaknya yang selama ini diharapkan menjadi pewarisnya, sudah lebih dahulu melarikan diri bersama isteri dan keluarga pergi keluar negeri.

Inilah tragedi para penguasa Arab yang tidak memiliki basis kekuatan rakyatnya. Para penguasa Arab, umumnya, tak lain, mereka itu menjadi penjaga kepentingan penjajah. Mereka hanya menjadi ‘budak’ para penjajah Barat dan Israel. Mereka tak pernah mau menjadi pelindung rakyatnya dan Islam.

Karena itu, mereka menjadi hina dina, dan akhirnya hidup dan mati dipengasingan, ketika kekuasaannya sudah di ujung. Seperti Fir’aun yang meminta tolong Tuhan, ketika sekaratul maut sudah berada di lehernya, tetapi tak ada lagi yang mau menolongnya. Fir’aun tenggelam di Laut Merah. Fir’aun dan belatentaranya yang mengejar Musa dan para pengikutnya, tak dapat mengejarnya. Kemudian, Fir’aun dan balatentaranya tenggelam di dasar Laut Merah. Meksipun jasad Fir’aun di temukan kembali di tepian laut, yang sekarang dimumikan.

Mubarak menunggu takdirnya yang tak mungkin akan dapat dihindarinya. Ihtiarnya untuk menyelamatkan dirinya akan sia-sia. Tiga puluh tahun kekuasaannya , hanya menorehkan tinta hitam bagi rakyat Mesir. Tinta hitam sebuah diktator yang tak pernah peduli dengan kehidupan rakyatnya. Tidak peduli dengan Islam.

Di Mesir selalu lahir Fir’aun-Fir’aun baru yang kejam, dan tak pernah percaya kepada Tuhan. Sejak Raja Farouk, yang digulingkan Jenderal Najib, dan kemudian melahirkan pemerintahan militer. Najib digulingkan oleh Jenderal Gamal Abdul Nasser, yang menjadi alat Soviet, dan menjadi diktator yang sangat kejam, dan memenjarakan ribuan anggota Jamaah Ikhwan, dan menggantung tokoh-tokohnya termasuk Sayyid Qutb, Ali Audah, dan lainnya. Gamal Abdul Nasser yang menjadi ‘budak’ Soviet itu, mati, dan digantikan oleh Anwar Sadat.

Sadat tak kalah bebal dan bodohnya dan mengingkari hakekat Mesir, yang membuat perjanjian damai dengan Israel, dan membuka hubungan diplomatik dengan negeri penjajah Zionis-Israel. Sejak itu, Mesir yang menjadi negara yang paling strategis di kawasan Timur Tengah, masuk perangkap Israel. Tak ada lagi perang melawan Israel. Mesir mengakali PLO, yang dipimpin Yasser Arafat untuk meninggalkan perjuangan militernya melawan penjajah Israel. Tetapi, Mesir tetap tidak mendapatkan apa-apa. Ujung kisah Anwar Sadat dibunuh oleh seorang perwira militer Mesir, Khaled Islambouli, saat parade militer, yang memperingati hari Angkatan Perang Mesir, 6 Oktober 1978. Sadat tewas oleh berondongan peluru.

Mubarak yang menggantikan Anwar Sadat ini, bertindak lebih jauh lagi terhadap Israel, seakan-akan Mubarak itu, bukan lagi pemimpin Mesir. Mubarak itu sudah seperti pemimpin Israel. Karena pembelaan terhadap Israel, yang sangat berlebihan. Mubarak benar-benar menjadi penjaga Israel di Timur Tengah. Bukan penjaga bangsa Arab dan Islam.

Di Mesir di tahun 1928 lahir Jamaah Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al-Banna. Ikhwan yang mempunyai ‘main role’ yang sangat penting dalam kehidupan politik di Mesir. Sesudah 20 tahun kemudian, Al Banna menyerukan jihad untuk mengusir Israel dan Yahudi dari tanah Palestina. Maka tahun 1948, ribuan sukarelawan Mesir pergi ke Palestina berjihad membebaskan tanah Palestina. Meskipun, perlawanan itu gagal, akibat pengkhianatan para pemimpin Arab. Sejatinya, tujuan Jamaah Ikhwan didirikan oleh Hasan Al-Banna itu, tak lain untuk membebaskan negeri-negeri Muslim yang terjajah.

Sekarang tujuan Ikhwan itu tak pernah berubah, membebaskan Mesir dari penjajah Barat. Karena itu, Ikhwan selalu bertabrakan dengan para penguasa Mesir, yang merupakan alat penjajah. Hasan al-Banna mati dibunuh oleh Raja Farouk, yang menjadi kaki tangan Inggris.

Ikhwan ikut menggulingkan Raja Farouk bersama dengan Jenderal Najib, tetapi tak lama Najib terguling, dan digantikan oleh Gamal Abdul Nasser, yang memperlakukan anggota dan pemimpin Ikhwan dengan sangat kejam. Memenjarakan dan membunuhi serta menggantung tokoh Ikhwan. Anwar Sadat dan Mubarak sama, sangat memusuhi Ikhwan. Para jenderal itu tak pernah memberikan hak hidup terhadap Ikhwan sejak dibubarkan tahun 1956.

Tetapi, para pemimpin Ikhwan begitu sabar dan teguh. Tak pernah menyerah dengan para penguasa yang zalim. Tak pernah menjilat kepada para penguasa zalim. Terus melakukan dakwah mengajak rakyat Mesir kembali kepada Islam. Sampai sekarang Ikhwan di Mesir tidak pernah berubah dari waktu-waktu, dengan semboyannya, yaitu ‘Islam huwal hal’ (Islam adalah solusi). Ikhwan menyakini keagungan Islam. Tak mau menukar dan menggadaikan Islam dengan kekuasaan. Hidup pemimpin Ikhwan benar-benar menjadi tauladan.

Seperti kesaksian Dr.Yusuf Qardawi yang pernah dipenjara bersama dengan tokoh-tokoh Ikhwan, di penjara militer Liman Touroh, menceritakan, bagaimana penjara-penjara itu berubah menjadi tempat ibadah yang sangat teduh, indah, dan penuh kenikmatan. Pagi, siang, dan malam, senantiasa terdengar suara dzikir, dan alunan ayat-ayat Qur’an, tak henti-henti. Sungguh sangat indah. Mereka orang-orang yang sangat sabar.

Aksi protes yang berlangsung lebih sepekan di Mesir, memperlihatkan bagaimana rakyat Mesir yang sudah tersibghoh (terwarnai) dengan nilai-nilai Islam, yang ditanamkan oleh Ikhwan itu, tak pernah melupakan mereka melakukan ibadah shalat. Sungguh indah nilai-nilai Islam yang ditanamkan Ikhwan.

Di tengah-tengah krisis politik yang begitu hebat, para pemimpin dan gerakan Ikhwan telah menunjukkan karakter dan jatidirinya yang mulia. Wallahu’alam.

Re-post from: eramuslim


31 Januari 2011

Sinyalemen Nabi: Banyak Pemimpin Bejat dan Hina di Akhir Zaman


Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah memberikan kekuasaan untuk memegang urusan masyarakat kecuali kepada orang paling baik dan paling mengerti, demikian pula yang dilakukan para khalifah sesudahnya.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, dari Hudzaifah rahimahullaah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada penduduk Najran,

لَأَبْعَثَنَّ إِلَيْكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ فَاسْتَشْرَفَ لَهَا أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ

“Sungguh aku akan mengirim kepada kalian orang kepercayaan yang betul-betul dapat dipercaya.” Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam merasa mulia (berkeinginan) dengan hal itu. Lalu beliau mengutus Abu Ubaidah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini berbeda dengan kondisi di akhir zaman, banyak sekali orang yang bejat lagi hina, tidak berilmu dan tidak bertakwa menduduki posisi penting di tengah-tengah umat dan menentukan kebijakan untuk umum. Dan ini merupakan sebagian dari tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)

Dan dalam hadits Jibril yang panjang, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan tentang dekatnya kiamat yang ditandai dengan banyaknya pemimpin yang hina,

وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا كَانَتْ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا

“Tetapi akau akan sampaikan kepadamu tentang tanda-tandanya, yaitu apabila budak wanita melahirkan tuannya, maka itu bagian dari tanda-tandanya. Dan apabila orang-orang yang tidak berpakaian dan tidak beralas kaki menjadi pemimpin manusia, maka itu bagian dari tanda-tandanya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ

“Hari kiamat tidak terjadi hingga manusia yang paling bahagia dia dunia ialah Luka’ bin Luka’.” (al-Tirmidzi dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, no. 2365 dan Shahih al-Jami’, no. 7431)

Dalam Shahih Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik, “Dunia tidak akan habis hingga ada pada Luka’ bin Luka’.”

Dan dalam riwayat Thabrani, dari hadits Abu Dzar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْلِبَ عَلَى الدُّنيا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ

“Hari kiamat tidak akan terjadi hingga yang berkuasa di dunia ialah Luka’ bin Luka’.”

Luka’ menurut bangsa Arab artinya budak. Ada juga yang mengartikan kotoran. Kemudian kata ini digunakan untuk menunjukkan kebodohan dan kehinaan orang jahil dan tercela. Kadang-kadang kata Luka’ juga digunakan untuk anak kecil. Dan jika digunakan untuk orang dewasa, maka yang dimaksud adalah orang yang kecil ilmu dan akalnya. (Lihat: Nihayah fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir: 4/268)

Menurut Syaikh Yusuf al-Wabil dalam Asyratus Sa’ah, kondisi seperti yang disebutkan di atas sudah terjadi di zaman sekarang. Dan dalam realita sekarang kita saksikan banyak pemimpin-pemimpin yang gemar membangun pencitraan sehingga banyak rakyat yang tertipu dengannya dan memujinya, “Alangkah hebatnya!, alangkah baiknya!, alangkah amanahnya!, alangkah bagus akhlaknya!,” dan pujian-pujian lainnya. Padahal pemimpin-pemimpin tersebut adalah makhluk yang sangat durhaka kepada Tuhannya, minim pemahaman agama dan penerapannya. Bahkan, ia sebenarnya orang yang sangat tidak amanah dan suka berdusta. Tidak memikirkan rakyat kecil dan tidak menunaikan hak-hak mereka. Malah sebaliknya, ia gemar menumpuk kekayaan dan membangun istananya. Dan dosanya diperparah dengan memusuhi kaum muslimin yang istiqamah memegang agamanya dan berusaha menghancurkan Islam sampai akar-akarnya.

Maka tepatlah hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya, dari Hudzaifah mengenai hadits diangkatnya amanat,

لَا يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّي الْأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِي بَنِي فُلَانٍ رَجُلًا أَمِينًا حَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ مَا أَظْرَفَهُ مَا أَعْقَلَهُ وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ

“Hampir-hmapir tak ada seorangpun yang melaksanakan amanat sehingga dikatakan, ‘sesungguhnya di tengah-tengah Bani fulan ada seorang laki-laki yang sangat amanat’ sehingga dikatakan kepada seseorang, ‘alangkah sabarnya, alangkah cermatnya, alangkah pandainya,’ padahal di dalam hatinya tidak ada iman walaupun seberat biji sawi.” Laa haula walaa quwwata Illaa billah.

Pemimpin-pemimpin bejat suka membangun pencitraan dan menipu rakyat, padahal -sebenarnya- mereka adalah makhluk yang sangat durhaka kepada Tuhannya, minim pemahaman agama dan penerapannya. . .

. . . Dan dosanya diperparah dengan memusuhi kaum muslimin yang istiqamah memegang agamanya dan berusaha menghancurkan Islam sampai akar-akarnya.

Pemimpin Bejat: Menyesatkan Umat Manusia dan Menghancurkan Islam

Keberadaan para pemimpin bejat zalim lagi jahil seperti yang diberitakan di atas sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah: 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316)

Menurut penulis Fath al-Majid, penggunaan kata Innama yang mengandung makna al-hashr (pembatasan/penghususan) menjelaskan bahwa beliau sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan.

Bahkan fitnah yang ditimbulkannya lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu pernah pertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal. Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.” (HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya.)

AL-AIMMAH AL-MUDHILLIN (para pemimpin penyesat umat) masuk di dalamnya para umara (pemimpin pemerintahan), ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak dzalim, dictator dan kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat.

Para ulama yang menjadi pemimpin menyesatkan karena mereka menyembunyikan ilmu dan merubah-rubahnya. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwatnya atau kepentingan para pemimpinnya.

Sedangkan para ahli ibadah yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka suka membuat tata cara ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka ditiru dan diidolakan. Apalagi kalau mereka sampai memotifasi umat untuk melaksanakannya. Akibatnya, dia sesat dan menyesatkan manusia. Keberadaan mereka itulah yang menyebabkan Islam akan roboh. Dari Ziyad bin Hudair berkata. Umar radhiyallahu 'anhu berkata kepadaku, “Apakah engkau tahu apa yang akan menghancurkan Islam?” Aku (Ziyad) menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Yang akan menghancurkannya adalah menyimpangnya ulama, gugatan orang munafik terhadap Al-Kitab, dan hukum para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. al-Daarimi. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Takhrij al-Misykah (1/89), “sanadnya shahih.”)

Penutup

Jika kita mau jujur menimbang pemerintahan yang ada sekarang, rasa-rasanya keburukan dan kejahatannya sudah tersiratkan oleh hadits-hadits di atas. Dan jika pemimpin dan penguasa seperti itu sifatnya, maka semua urusan akan jungkir balik. Akibatnya, pembohong dipercaya, orang jujur didustakan, penghianat diberi amanat, orang terpercaya dihianati dan didustakan, orang bodoh berbicara, orang alim dipenjara dan dilarang bicara. Kondisi ini persis seperti yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu diangkat dan tersebarnya kebodohan.” (Muttafaq ‘Alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)

Semoga Allah memberikan kepada kita para pemimpin yang takut kepada Allah dan memiliki sifat amanah, mengasihi rakyat dan tidak suka hidup mewah, menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, cinta syariat dan anti khianat. Amiin, yaa Rabbal ‘alamin. [PurWD/voa-islam.com]

Re-post from: voa-islam.com


28 Januari 2011

Jangan Asal Beribadah, Karena Ibadah Bersifat Tauqifiyah!

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memilihkan untuk kita agama terbaik, Rasul paling mulia, kitab yang menghapus dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya, dan syariat yang paling sempurna, mudah, dan penuh hikmah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada hamba dan utusan Allah, Muhammad bin Abdillah, keluarga dan para sahabatnya.

Sering kita dengar istilah tauqifiyah. Salah satunya dalam masalah ibadah. Bahwa ibadah bersifat tauqifiyah. Lalu apa makna dan maksud istilah tauqifiyyah tersebut?

Makna perkataan para ulama yang menjelaskan “Ibadah adalah tauqifiyah” atau “Ibadah dibangun di atas tauqif” adalah tidak boleh beribadah kepada Allah dengan satu ibadah kecuali apabila ibadah ini telah benar-benar terdapat ketetapannya dalam nash-nash syar’i (Al-Qur’an dan sunnah) bahwa itu ibadah yang telah Allah Ta’ala Syariatkan. Karena ibadah tidak disyariatkan (tidak diperintahkan) kecuali dengan adanya dalil syar’i yang menunjukkan atas perintah tersebut.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3) Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini untuk kita, maka apa yang tidak Allah Ta’ala syariatkan sesudah turunnya ayat ini maka bukan bagian dari agama kita.

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada sesuatu yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan kepada kalian.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir no. 1647 dan dishahihkan dalam al-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah)

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ ، وَلاَ تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ إِلاَّ وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

“Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang Allah perintahkan kepada kalian kecuali telah aku perintahkan kalian melaksanakannya. Dan tidak juga aku meninggalkan suatu larangan yang telah Allah larang kalian darinya kecuali telah aku larang kalian darinya.” (HR. al-Syafi’i dalam Musnadnya dan dihassankan Al-Albani dalam al-Shahihah)

Maka apa yang tidak pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jelaskan kepada kita, maka ia bukan bagian dari agama ini dan bukan pula amalan yang bisa mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka.
"Ibadah adalah tauqifiyah” adalah tidak boleh beribadah kepada Allah dengan satu ibadah kecuali apabila ibadah ini telah benar-benar terdapat ketetapannya dalam nash-nash syar’i (Al-Qur’an dan sunnah) bahwa itu ibadah yang telah Allah Ta’ala syariatkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata, “Berdasarkan pengkajian terhadap ushul syariah, kita mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang telah Allah wajibkan atau yang Dia cintai tidak ditetapkan perintahnya kecuali dengan syariat. Sedangkan adat (tradisi) adalah apa yang biasa dikerjakan manusia dalam kehidupan dunianya untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Maka hukum asal dalam masalah ini adalah tidak ada larangan. Tidak boleh dilarang kecuali apa yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal itu, karena perintah dan larangan adalah syariat (ajaran) Allah Ta’ala. Sedangkan ibadah harus ada perintahnya. Maka yang tidak ada ketetapan bahwa itu diperintahkan, bagaimana bisa disebut ibadah? Dan adat kebiasaan apa saja yang tidak ditetapkan bahwa itu dilarang, bagaimana bisa dihukumi dilarang?

Oleh karena inilah, Imam Ahmad dan ulama hadits lainnya berkata: Sesungguhnya hukum asal dalam ibadah adalah tauqif, tidak disyariatkan kecuali apa yang telah Allah Ta’ala syariatkan. Jika tidak demikian maka kita telah masuk dalam makna firman Allah Ta’ala,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”

Sedangkan adat (tradisi) hukum asalnya dimaafkan, tidak boleh dilarang. Kecuali apa yang telah Allah haramkan. Jika tidak demikian, maka kita telah masuk dalam makna firman Allah,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا

“Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal".” (QS. Yunus: 59)

Oleh karenanya, Allah mencela kaum musyrikin yang mereka membuat syariat dalam agama mereka yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan sesuatu yang tidak Dia haramkan.” (Majmu’ al-Fatawa: 29/16-17)
Maka hukum asal dalam masalah adat (tradisi) adalah tidak ada larangan. Tidak boleh dilarang kecuali apa yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal itu, karena perintah dan larangan adalah syariat (ajaran) Allah Ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullaah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, maka apa saja yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya secara mutlak, seperti itulah disyariatkannya. Sedangkan yang disyariatkan dengan terikat waktu atau tempat maka kita batasi dan kita ikat dengan tempat dan waktu tersebut.” (Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim: 6/75)

Ulama Lajnah Daimah berkata, “Ibadah dibangun di atas tauqif. Karenanya tidak boleh dikatakan bahwa ini ibadah yang disyariatkan ditinjau dari sisi asal perintahnya, jumlahnya, bentuknya, atau tempatnya kecuali dengan dalil syar’i yang menunjukan perintah itu.” (Fatawa al-Lajnah al-Daimah: 3/73)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah berkata, “Hukum asal ibadah adalah larangan. Karenanya bagi seseorang tidak boleh beribadah untuk Allah kecuali dengan sesuatu yang tidak pernah Allah syariatkan; baik dalam kitab-Nya atau dalam sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Dan kapan saja seseorang ragu terhadap salah satu amal, apakah ia ibadah atau tidak, maka pada asalnya ia bukan ibadah sehingga ada dalil yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan ibadah.” (Fatawa Nuur ‘Ala al-Darb: 1/169)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, tidak boleh mengamalkan suatu ibadah di satu tempat, waktu, corak ibadah tertentu kecuali dengan tauqif dan perintah dari Syaari’ (pembuat syariat/Allah Ta’ala). Adapun orang yang membuat-buat hal baru yang tidak pernah diperintahkan oleh Syaari’ dari urusan ibadah, tempatnya, waktunya, atau bentuknya maka ia adalah bid’ah.” (al-Muntaqa’ min Fatawa al-Fauzan: 13/16)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullaah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, maka tidak disyariatkan kecuali apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti shalat lima waktu, zakat, puasa Ramadlan, haji dan ibadah-ibadah lainnya yang telah Allah syariatkan berupa shalat-shalat sunnah, shadaqah, shaum, haji, jihad dan yang selain itu yang telah ditetapkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bukti disyariatkannya, baik berupa sabda atau amal beliau, seperti shalat Dzuha, shalat istikharah, tahiyatul masjid dan amal-amal ibadah lainnya yang telah ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i.” (Dinukil dari www.binbaz.org.sa)
Karenanya tidak boleh dikatakan bahwa ini ibadah yang disyariatkan ditinjau dari sisi asal perintahnya, jumlahnya, bentuknya, atau tempatnya kecuali dengan dalil syar’i yang menunjukan perintah itu.
(Lajnah Daimah)

Ringkasnya, bahwa hukum asal ibadah adalah haram dan tidak boleh ditegakkan kecuali adanya dalil syar’i yang memerintahkannya; baik berupa perintah dasar adanya, waktu, tempat, atau tata caranya. Karenanya bagi yang ingin beribadah kepada Allah harus mengetahui dan memastikan bahwa amal ibadah yang akan dikerjakannya memang benar-benar ada perintahnya dari Al-Qur’an dan sunnah. Dia juga harus memperhatikan tentang waktu, tempat, dan tata caranya karena semua itu menjadi bagian makna tauqifiyah. Wallahu a’lam bil shawab.

[PurWD/voa-islam.com]
Sumber: .voa-islam.com


26 Januari 2011

Strategi Intelijen Nabi dan Para Shahabat

RASULULLAH shallallahu ’alaihi wasallam adalah seorang pemimpin yang ahli strategi perang. Beliau mengenalkan strategi intelijen sudah 14 abad lalu. Untuk kepentingan intelijen dan kerahasiaan militer, Nabi menyimpan rapat-rapat informasi jumlah pasukan ini bahkan kepada istri tercintanya, Siti Aisyah atau pada shahabat kepercayaannya sendiri, Abu Bakar Ash-Shidiq.

Dalam sejarah Islam juga tercatat nama Hudzaifah Ibnul Yaman sebagai salah satu agen intelijen atau spion andalan Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir dan munafik yang ingin memerangi Islam dan Muslim. Oleh Rasulullah, Hudzaifah dinilai sebagai orang yang bisa dipercaya, memiliki ingatan yang kuat cerdik dan cerdas dalam mengolah informasi. Hudzaifah juga dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul yang memudahkannya untuk menjalankan operasi telik sandi.

Salah satu tugas penting yang diemban Hudzaifah adalah pada saat Perang Khandaq (Perang Parit). Ketika itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah untuk memata-matai pasukan kafir Quraisy dari Mekkah yang berkekuatan 10.000 ribu orang, ditambah bantuan kekuatan dari orang-orang Yahudi. Mereka berencana untuk menyerang kota Madinah yang hanya memiliki kekuatan 3.000 orang pasukan perang.

....Rasulullah sudah mengenalkan strategi intelijen 14 abad lalu. Untuk kepentingan intelijen dan kerahasiaan militer, beliau menyimpan rapat-rapat informasi jumlah pasukan ini bahkan kepada istri tercintanya maupun shahabat kepercayaannya….

Saat melakukan pembebasan negeri Mekkah dari suku Quraisy, Nabi Muhammad, ketika itu berencana akan mengerahkan 10.000 pasukan tentara Muslim. Untuk melakukan ‘serangan dadakan’, Rasulullah mengirim intelijennya ke Mekah. Tugasnya adalah mengacaukan informasi pada musuh agar mereka berselisih ihwal benar atau tidaknya pasukan Islam yang berencana melakukan serangan dadakan dengan jumlahnya yang besar.

Esoknya, dalam penyerangan mendadak itu kau kafir Quraisy benar-benar kelabakan. Mereka tak menyangka di pagi hari buta itu, telah datang puluhan ribu orang dari pasukan Islam di kota Mekah. Tanpa persiapan, mereka kemudian menyerah. Rasulullah paham, orang Quraisy tak akan melakukan perlawanan. Sebab di tangannya, Rasulullah telah menguasai informasi kekuatan musuh, situasi yang bakal terjadi, hingga informasi logistik, menyangkut keadaan jalan-jalan yang akan dilalui pasukan Islam dan kondisi mata air. Detil, rapi dan rahasia. Itulah strategi Muhammad dalam menjalankan perang dan intelijen.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mata-mata, Hudzaifah juga sangat hati-hati dan tidak bersikap yang bisa menimbulkan kecurigaan. Hudzaifah juga sangat kuat memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan Rasulullah kepadanya untuk memegang daftar orang-orang munafik. Bahkan ketika shahabat Rasulullah, Umar bin Khattab menanyakan perihal daftar nama itu, Hudzaifah menolak memberikannya.

Untuk mengetahui siapa orang-orang yang masuk daftar orang munafik itu, Umar hanya bisa mengamati jika ada rakyatnya yang meninggal dan Hudzaifah tidak menyolatkannya, maka orang itulah orang munafik itu.

....Seorang shahabat Abdullah bin Unis juga pernah dikirim Rasulullah menyusup ke jantung pasukan musuh....

Seorang shahabat Abdullah bin Unis juga pernah dikirim Rasulullah menyusup ke jantung pasukan musuh. Sasaran utama misi itu adalah Bani Lihyaan dari Kabilah Huzail yang dipimpin oleh panglima mereka, Khalid bin Sofyan Al-Hazaly.

Misi ini dilakukan karena umat Islam mendapatkan kabar bahwa Khalid bin Sofyan Al-Hazaly tengah berupaya mengadakan pemusatan kekuatan pasukan gabungan kaum kafir yang cukup besar di daerah Uranah untuk menyerang Islam. Karena itu, Rasulullah mengirim Abdullah bin Unis untuk melakukan misi pengintaian sekaligus penyelidikan untuk membenarkan kabar berita tersebut.

Shahabat Nabi yang lain, yang ditugaskan melakukan operasi intelijen adalah Abdullah bin Jahsy Al-Asady. Bulan Jumadil Akhir 1424, Abdullah bin Jahsy Al-Asady, beserta dua belas shahabat dari kalangan muhajirin, diantaranya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan ’Utbah bin Ghazwan. Rasulullah memberinya sebuah surat yang boleh dibaca jika perjalanan mereka sudah mencapai dua hari.

Setelah dua hari dalam perjalanan, sang komandan, Abdullah bin Jahsy kemudian membuka isi surat tersebut. Isinya, tak lain adalah sebuah perintah untuk memata-matai musuh: ”Berangkatlah menuju Nikhlah, antara Mekkah dan Tha’if. Intailah keadaan orang orang Quraisy di sana dan laporkan kepada kami keadaan mereka.” Selepas membaca surat itu, Abdullah bin Jahsy dan para rombongan kemudian berujar, ”Kutaati perintah ini!”

....Dalam misi intelijen Rasulullah juga pernah melakukan propaganda untuk memperlemah kekuatan musuhnya....

Dalam misi intelijen Rasulullah juga pernah melakukan propaganda untuk memperlemah kekuatan musuhnya. Dalam kisah, pernah suatu ketika kekuatan musuh gabungan porak-poranda dan bercerai-berai akibat tidak adanya kekompakan diantara mereka akibat propaganda yang dilancarkan Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghathafany, mantan musuh yang kemudian bergabung ke pasukan Islam. Nu’aim melakukan psyco war (perang urat syarat) dan propaganda yang membuat kekuatan musuh goyah dan bercerai-berai. [desastian/voa-islam.com]

Sumber: voa-islam.com


25 Januari 2011

Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah keatas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarganya, shahabatnya dan mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:

Phenomena yang terjadi baru-baru ini yaitu kemunculan jejak UFO berupa circle crop di Sleman Yogyakarta menggegerkan rakyat Indonesia terutama warga sekitar karena ini yang pertama terjadi di negara kita.

Sebagian orang langsung percaya bahwa itu memang jejak UFO dan memang makhluk luar angkasa benar-benar ada, sedangkan sebagian orang terburu-buru mengingkarinya dan mengatakan bahwa makhluk luar angkasa itu tidak ada.

Lalu bagaimana kita sebagai seorang muslim yang diwajibkan percaya kepada yang ghaib yang tidak bisa kita lihat menyikapi phenomena seperti ini?
Bagaimana phenomena makhluk luar angkasa jika ditinjau dari Al-Qur’an?

Harus diketahui bahwa Yang menciptakan manusia dari tidak ada dan membentuknya dan meniupkan padanya dari ruh-Nya, dan mengokohkan ciptaan alam semesta ini termasuk keajaiban yang ada didalamnya, adalah juga Maha Kuasa untuk menciptakan luar angkasa dan makhluknya, Al-Qur’an telah menunjukkan adanya makhluk-makhluk yang tidak diketahui oleh manusia dimasa kenabian, demikian juga Al-Qur’an menunjukkan peran dari penemuan ilmiyah, dan bahwa setiap berita akan ada waktu kemunculannya, Allah Azza wa Jalla berfirman:

(وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ) (النحل:8)

Artinya: (dan dia telah menciptakan kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.) [QS An-Nahl: 8].

Dan disebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa ayat yang sepertinya mengisyaratkan adanya binatang di langit dan bumi, diantaranya firman Allah Ta’alaa:

(وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاء قَدِيرٌ) (الشورى:29)

Artinya: (di antara tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya) [QS Asy-Syuura: 29].

Sebagian ulama mengatakan bahwa lafaz daabbah (makhluk melata)menunjukkan bahwa itu makhluk-makhluk selain malaikat karena Allah Azza wa Jalla membedakan antara makhluk yang melata dengan malaikat dalam menyebutkannya dalam firman-Nya:

(وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ) (النحل:49)

Artinya: (dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri) [QS An-Nahl: 49).

Allah Ta’alaa menyebutkan dalam ayat diatas makhluk-makhluk melata di langit dan makhluk melata di bumi kemudian baru menyebutkan para malaikat.

Dengan ayat-ayat seperti ini sebagian ulama menyebutkan bahwa tidak ada salahnya ini menjadi isyarat atas wujudnya alam-alam lain, akan tetapi sepatutnya kita tidak memastikan hal ini, karena ayat-ayat seperti ini bisa mengandung kemungkinan lebih dari satu pentakwilan.(Fatwa dari Syeikh Abdullah Al-Faqih hadidzohullah Ta'alaa)
Adapun pendapat bahwa makhluk-makhluk ini yang menciptakan manusia dengan bentuk yang menyerupainya dengan perantara DNA dan bahwa dia merupakan kekuatan ajaib yang mengakibatkan wujudnya manusia, maka ini secara hakikatnya merupakan pendapat yang batil yang menafikan akidahnya.

Kesimpulan:

Meskipun Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam beberapa ayatnya tentang keberadaan makhluk di luar angkasa, namun kita tidak boleh memastikan bahwa phenomena yang terjadi di bumi merupakan jejak keberadaan mereka, karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat secara langsung wujud mereka seperti yang sering dilukiskan dalam film-film, demikian juga kita tidak boleh menafikan secara langsung keberadaan mereka karena Al-Qur’an telah memberi isyarat yang memungkinkan keberadaan mereka.

Tapi kita tidak boleh terlalu menyibukkan diri mendalami tentang masalah ini karena bukan termasuk perkara ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada kita untuk mengharap pahala dan ridlo-Nya di dunia dan akhirat.

Wallau A’lam bishowab.

(ar/voa-islam.com
Sumber: voa-islam.com


23 Januari 2011

Anak Menjadi Serakah, Kesalahan Orang Tua kah?

Anak Anda suka merebut mainan dari temannya walaupun sudah memiliki mainan yang sama? Selalu merajuk setiap keinginannya tidak dituruti? Atau, akan menyakiti temannya untuk mendapatkan keinginannya? Hati-hati, jangan langsung melabeli anak dengan sebutan serakah dan memarahinya. Instropeksi lagi, apakah Anda juga sering melakukan hal serupa?

Sebaiknya Orangtua Berkaca Diri

Menurut psikolog anak Joan Grusec, tidak ada anak yang lahir dengan perilaku serakah. Sifat ini tumbuh, seringkali tanpa disadari, akibat meniru orangtua atau seseorang di lingkungan terdekat anak, yang cenderung memiliki kedekatan emosional dengannya.

Cobalah berkaca pada diri sendiri, apakah orangtua atau lingkungan sering menampakkan sikap rela melakukan apa saja demi keinginannya? Atau, sering mengesampingkan kepentingan orang lain? Atau, sering memberikan hadiah setiap anak bersikap baik? Atau, sering meminta maaf atau mengekspresikan rasa cintanya dengan materi? Atau, sering memanjakan dan selalu meluluskan permintaan anak? Atau, sering membiarkan perilaku serakah pada anak? Jika tiga dari pertanyaan tersebut dijawab ya, maka orangtualah yang menyebabkan timbulnya perilaku ini pada anak.

Bisa Berkembang Menjadi Materialistis

Selain bisa dijauhi teman-temannya, perilaku serakah jika tidak segera diatasi akan terus berkembang menjadi perilaku materialistis. Secara psikologis, anak akan berkembang dengan pandangan dan penilaian dengan barometer materi. Mereka akan lebih menghargai sebuah hubungan dari sisi materinya daripada segi hubungan emosi antar manusia.

Mereka tidak akan pernah merasa cukup dan akan terus meminta lebih dari yang sudah dimilikinya. Anak juga akan dengan mudah mengesampingkan kepentingan orang lain demi kepentingan pribadinya. Dan bukannya tidak mungkin perilaku ini akan terus berkembang hingga dewasa dan membuat diri mereka akan melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya, seperti korupsi.

Segera Ubah Perilaku ini!

1. Tumbuhkan pemahaman bahwa memiliki banyak teman lebih baik daripada banyak barang. Bermain bersama teman-teman lebih asik daripada bermain sendirian, kan?

2. Hentikan kebiasaan memenuhi semua keinginannya, dan lakukan tanpa rasa bersalah. Jelaskan maksud dan alasan orangtua melakukan hal ini, dan jangan menyerah.

3. Pantau pergaulannya dengan keluarga besar dan lingkungannya untuk melihat sumber yang menginspirasi anak berperilaku serakah.

4. Tanamkan nilai-nilai prososial kepada anak, seperti menolong orang lain, tidak memaksakan keinginan pribadi, serta belajar untuk berbagi dengan orang lain.

5. Tumbuhkan kebiasaan menabung dan merawat benda yang sudah dimilikinya agar tidak mudah rusak dan bisa digunakan dalam jangka panjang.

6. Ajarkan anak untuk menghormati kepemilikan orang lain dan tekankan bahwa tidak semua keinginannya harus terpenuhi.

7. Berikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya untuk membiasakan anak bergaul dengan lingkungan sosial, mempelajari nilai-nilai yang disukai dan tidak disukai pada kelompok anak seusianya, serta dampak yang akan ia terima.

8. Biasakan anak untuk memberikan benda atau mainannya yang sudah tidak terpakai kepada anak lain yang lebih membutuhkan.

9. Orangtua harus mampu menjadi contoh dan penyemangat utama anak dalam proses mengubah perilaku ini.

(sydh/dtc)
Sumber: voa-islam.com