01 Februari 2011

Tumpukan Sampah di Ciniru Terancam "Meledak"

TOTO SANTOSA/’’PRLM’’
Volume sampah yang melampaui ambang batas di TPSA Desa Ciniru
Kab. Kuningan, perlu segera diurai dan tidak ditambah lagi
karena dinilai sangat berpotensi menimbulkan ledakan yang
sangat kuat, yang disebabkan gas metan. Tumpukan sampah di
Ciniru Kuningan, Senin (31/1).*
KUNINGAN, (PRLM).- Tingginya tumpukan sampah yang melampaui ambang batas lebih dari 547.500 m3 dengan kedalaman 7-10 meter di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) di Kab. Kuningan, perlu segera diurai dan tidak ditambah lagi karena sangat berpotensi menimbulkan ledakan yang sangat kuat, yang disebabkan gas metan.

“Kami khawatir tempat pembuangan sampah akhir di bukit Desa Ciniru Kec. Jalaksana itu, tiba-tiba meledak akibat gas metan karena sudah sepuluh tahun tumpukan sampah sudah menggunung, sehingga perlu dicarikan lokasi lain,” tutur Syahlan, seorang petugas di UPTD TPSA Ciniru, Senin (31/1).

Dijelaskan Syahlan, Desa Ciniru merupakan satu-satunya TPSA (tempat pembuangan sampah akhir) yang ada di Kab.Kuningan pada areal seluas 3,31 Hektare. Tanah berbukit dan bertebing curam itu, merupakan tanah titisara Desa Ciniru yang disewakan kepada Pemkab Kuningan sejak tahun 1999 akhir. Sebelumnya menggunakan tanah di daerah Citangtu, namun sudah tidak mampu menampung lagi sehingga mencari tempat lain.

TPSA di Ciniru pun akhirnya menggunakan sistem tumpuk karena lahan sudah tidak memungkinkan lagi untuk dijadikan penampungan. Setiap harinya, rata-rata sebanyak 150 m3 atau 20 unit dumtruk sampah dari perkotaan dibuang ke tempat itu. “Jadi kalau selama sepuluh tahun saja, sedikitnya terdapat lima ratus ribu meter kubik samaph menumpuk. Dampak dari volume sampah yang tidak tertampung itu dapat mengakibatkan tanah longsor yang membahayakan,” ujarnya.

Menurut Syahlan, Pemkab Kuningan juga memiliki mesin pengolah sampah yang ditempatkan di lokasi TPSA Ciniru. Namun, mesin tersebut belum bisa beroperasi untuk memproses sampah menjadi pupuk. Ia tidak menjelaskan alasannya belum bisa dioperasikan, sedangkan sampah dari truk langsung dibuang secara ditumpuk.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaam Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kab. Kuningan, H. Atik Suherman, mengakui areal TPSA yang ada sekarang dinilai sudah tidak mampu menampung lagi sehingga perlu segera dicarikan lokasi lain atau perluasan di areal tersebut.

Pihak BPLHD juga sempat berencana TPSA akan dialihkan ke daerah Cidahu, sehingga diperlukan dana sebesar Rp 15 miliar, untuk pembebasan tanah maupun pembangunan perkantoran dan kelengkapan alat-alat berat lainnya, tapi diprotes warga setempat dengan alasan wilayah Cidahu dijadikan ajang penambangan pasir sehingga warga Cidahu dan sekitarnya merasa keberatan. (A-164/das)***

Re-post from: Pikiran Rakyat Online

0 komentar:

Posting Komentar